foto

ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

Impor Beras Dibatalkan, Indonesia Pertanyakan Sikap Thailand  

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan akan mempertanyakan kebenaran informasi terkait pembatalan ekspor beras Thailand ke Indonesia. Dalam perjanjian Government to Government (G to G) Indonesia dengan Thailand pada Agustus lalu, disepakati bahwa Indonesia akan impor 300 ribu ton beras.

“Itu kan kontraknya sudah diteken, sudah sepakat juga masalah harga dan jumlahnya. Kemudian delivery batas akhirnya Oktober. Kami sudah tanyakan ke mereka bagaimana realisasi kontrak, tapi belum ada jawaban,” kata Sutarto ketika dihubungi Tempo, Rabu, 28 September 2011.

Sutarto menyatakan masalah pembatalan ekspor beras Thailand akan ditindaklanjuti oleh Kedutaan Besar Indonesia di Thailand, termasuk negosiasi soal kontrak yang sudah disetujui dalam G to G. “Aturan kontrak kan sesuai kesepakatan. Logikanya tidak bisa memutuskan tiba-tiba karena ini sudah di bawah payung G to G,” ujarnya.

Hingga kini, Bulog masih menunggu kepastian kebenaran informasi pembatalan tersebut ke pihak Kedutaan Besar di Thailand. Penyelesaian masalah kontrak ini akan diusahakan melalui koordinasi dan jalur diplomasi. “Kami percayakan pada Kedutaan saja. Namun Bulog selalu melakukan analisis, evaluasi, dan peluang dari setiap penugasan yang diberikan pemerintah kepada Bulog dalam menjaga stok dalam negeri,” ungkapnya.

Bulog, lanjutnya, belum berencana menambah volume impor beras dari Vietnam. Sampai saat ini, Bulog sudah menandatangani kontrak impor dari Vietnam sebesar 900 ribu ton dengan realisasinya baru sekitar 300 ribu ton.

Saat ditanya apakah akan ada pengalihan impor beras terkait pembatalan tersebut, Sutarto tidak mau menjawab. “Kita jangan berandai-andai dululah. Yang penting sekarang kami masih melakukan langkah-langkah koordinasi dengan Thailand sesuai kontrak yang disepakati,” jelasnya.

ROSALINA