Impor Beras Belum Diputuskan
Topik
Beras Impor Thailand Batal, Harga Tetap Stabil
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso meyakini batalnya penjualan beras oleh Thailand tidak terlalu mempengaruhi kenaikan harga beras dalam negeri. Alasannya, stok Bulog dipastikan masih cukup hingga awal tahun depan.
“Stok Bulog di luar impor kalau keadaan normal cukup untuk enam bulan ke depan. Masyarakat tidak usah terlalu khawatir dan kami harapkan pasar jangan dibuat (sebagai ajang) spekulasi,” kata Sutarto ketika dihubungi Tempo, Rabu, 28 September 2011.
Menurut Sutarto, agar tidak terjadi gejolak harga beras di dalam negeri, Bulog akan terus menggelontorkan operasi pasar. Dengan OP ini, Sutarto mengklaim harga beras saat ini masih dalam kondisi relatif stabil.
Dia menyebutkan bahwa tercatat jumlah operasi pasar yang sudah digelontorkan Bulog hingga hari ini mencapai 200 ribu. Dari jumlah itu, sebanyak 110 ribu ton adalah OP beras komersial Bulog dan 90 ribu adalah OP beras pemerintah.
Terkait pembatalan ekspor beras Thailand ke Indonesia, Bulog akan mengoptimalkan pengadaan dalam negeri. Sutarto mengatakan pengadaan beras dalam negeri sudah 1,5 juta ton dengan kontrak pengadaan sekitar 30-40 ribu ton beras.
Stok beras di gudang Bulog juga sudah diperkuat dengan pengadaan impor dari Vietnam yang sudah masuk 300 ribu ton dari kontrak 900 ribu ton. “Stok Bulog ditambah penugasan impor yang sudah ada, cukup untuk menstabilkan harga dan memperkuat stok dalam negeri,” katanya.
Pemerintahan Yingluck Shinawatra membatalkan penjualan 300 ribu ton beras ke Indonesia yang sebelumnya disepakati pemerintahan lama. Badan usaha logistik Thailand meneken nota kesepahaman terkait impor beras pada pertengahan Agustus lalu. Kesepakatan ini akan berlaku efektif bila Menteri Perdagangan ikut menandatangani.
“Tapi saya tidak menandatangani," kata Menteri Perdagangan Thailand Na Ranong Kittirat kepada Reuters, Selasa, 27 September 2011. Menurut dia, harga yang disepakati tidak sesuai dengan keinginan pemerintah Thailand dalam menjamin kesejahteraan para petani lokal. “Sehingga kesepakatan itu tidak bakal terjadi. Kami berharap Indonesia akan mengerti.”
ROSALINA





