foto

REUTERS/Carlos Barria

Pertumbuhan Ekonomi Cina Diramalkan Melambat

TEMPO.CO, Tokyo - Sebuah jajak pendapat yang dihelat Bloomberg meramalkan pertumbuhan Cina akan melambat hingga separuh lebih mulai dari sekarang. Mayoritas investor global yang menjadi responden menyebut ini adalah yang terburuk sejak pembongkaran ekonomi komunis Mao Zedong, tiga dekade lalu.

Hampir 50 persen responden mengatakan produk domestik bruto Cina, yang sempat naik 9,5 persen pada kuartal terakhir tahun ini, akan menurun menjadi 5 persen per tahun pada 2016.

Survei dilakukan triwulanan oleh Bloomberg terhadap investor global. Dilakukan 26 September lalu dan dipublikasikan hari ini, Kamis, 29 September 2011, dengan margin kesalahan plus atau minus 3,1 persen.

Sebanyak dua belas persen melihat tanda-tanda perlambatan pertumbuhan akan terjadi pada tahun ini dan 47 persen mengatakan itu akan terjadi dalam dua sampai lima tahun yang akan datang.

Krisis keuangan yang melanda kawasan Eropa dan Amerika Serikat diperkirakan bakal membuat ekspor Negeri Tirai Bambu itu jatuh. Cina tak lagi dapat mengandalkan perdagangan ke dua wilayah itu yang saat ini berjuang agar terhindar dari resesi.

Pada krisis global 2008-2009 lalu, nilai ekspor Cina jatuh ke titik terendah. Paling buruk sejak 1979.

Tanggung jawab pengelolaan ekonomi akan jatuh ke pemimpin Partai Komunis berikutnya saat dilakukan transisi kekuasaan dari Presiden Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao, akhir tahun depan.

"Jika kita tidak membeli barang, mereka tak akan membuatnya," kata Charles Doraine, Chief Executive Officer Wealth Management Doraine di Corpus Christi, Texas.

Jerome Selle, kepala investasi di MW Gestion di Paris, mengatakan potensi buble real estate, inflasi meningkat, serta krisis ekonomi Eropa dan Amerika sebagai sebuah peringatan bagi Cina.

Empat tahun setelah krisis keuangan yang dipicu oleh runtuhnya pasar hipotek-sekuritas AS, beberapa investor mulai meragukan kekuatan ekonomi Cina. Investor memberi label ekonomi Cina "memburuk" daripada "memperbaiki".

BLOOMBERG VIA GOOGLE NEWS | ERWINDAR