foto

Ayu Fani Damayanti. ANTARA/Andika Wahyu

Petenis Ayu Fani, Satu-Satunya Harapan Indonesia  

TEMPO.CO, Jakarta - Petenis tunggal putri Ayu Fani Damayanti menjadi satu-satunya harapan Indonesia di turnamen ITF Circuit, Garuda Indonesia Championship 2011. Ayu lolos ke babak semifinal setelah menyingkirkan tunggal putri Thailand Varatchaya Wongteanchai 6-1, 6-1 pada pertandingan yang berlangsung di Kompleks Tenis Senayan, Jumat 30 September 2011.

Ayu menunjukkan dominasinya sejak awal pertandingan menghadapi petenis unggulan ke-2 itu. "Saya memang berusaha untuk tidak memberikan kesempatan, saya langsung menekan dia dari awal," katanya saat ditemui seusai pertandingan.



 



 



 



Dia mengatakan bekal pengetahuan tipe permainan Wongteanchai memang sangat membantu. "Saya memang belum pernah bertemu dengannya, tetapi saya sudah sering melihat pertandingan dia di video-video jadi saya bisa tahu," ujarnya.

Wongteanchai merupakan salah satu pemain yang bakal memperkuat tim nasional Thailand pada SEA Games XXVI November nanti. "Dia merupakan pemain kedua Thailand," kata Ayu.



 



 



 



Berkesempatan menghadapi pemain seperti Wongteanchai seperti ini, Ayu berharap dirinya bisa mendapatkan modal untuk SEA Games nanti. "Setidaknya saya bisa merasakan bagaimana bermain menghadapi pemain-pemain Thailand," ucapnya.

Di babak semifinal nanti, Ayu akan menantang petenis unggulan ke-3 asal Afrika Selatan Chanel Simmonds. Dia lolos ke semifinal setelah menyingkirkan petenis China Zhao Yi Jing 6-0, 6-2.

Sementara itu, dari sektor tunggal putra Indonesia sudah tak lagi memiliki wakil. Dua petenis yang tersisa, David Agung Susanto dan Christoper Rungkat, kandas di babak perempatfinal. David Agung kalah dari petenis unggulan ke-8 Kim Young Jun asal Korea Selatan 6-7 (2/7), 0-6. Sementara Christoper ditundukkan petenis unggulan pertama Harri Heliovaara 4-6, 6-7 (7/4)

Bagi Christoper, kekalahannya kali ini memang banyak terpengaruh dari faktor pengalaman. "Ini masalah jam terbang, kuncinya memang di set pertama saya kehilangan konsentrasi," katanya.



 



 



 



Christoper mengaku sedikit terganggu dengan suasana gaduh yang terjadi di lapangan. "Dan masuk set kedua saya harus memulai dari awal, saya sempat menemukan ritme dari awal tetapi kelebihan pemain yang biasa bermain di turnamen Chalenger lebih konsisten di poin-poin kritis," katanya.



 



 



 



EZTHER LASTANIA