Kabut Asap/Tempo
Topik
Kabut Asap Kian Pekat
TEMPO.CO, Palembang - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kian pekat di wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Tengah. Akibatnya warga mengalami gangguan pernapasan dan jadwal penerbangan tertunda. Dari Palembang, Dinas Kesehatan kota itu menyebutkan sejak Agustus lalu 17.913 warga mengeluh terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Data itu kami himpun berdasarkan laporan dari 39 puskesmas yang ada di 16 kecamatan di Palembang," kata Kepala Dinas Kesehatan Palembang Gema Asiani, kemarin. Selain terkena ISPA, tercatat pula 447 warga terserang radang paru-paru. Meski demikian Gema mengatakan kabut asap saat ini tidak terlalu tebal. "Sekarang masih normal dan bukan kejadian luar biasa," katanya.
Dari pantauan Tempo, selama dua pekan terakhir kabut asap pekat menyelimuti Kota Palembang sejak fajar hingga pagi hari. Namun kabut berangsur pergi saat waktu menunjuk pukul 10.00 WIB. Kemarin pemerintah tampak membagikan masker kepada warganya.
Akibat gangguan asap tebal, akhir pekan lalu penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II terganggu. Tiga maskapai penerbangan menunda keberangkatan karena landasan pacu tertutup kabut asap. Menurut Yon Sugiono, General Manager PT Angkasa Pura II Bandara SMB II, kejadian akhir pekan lalu itu merupakan yang pertama sejak ada bencana kabut asap di Sumatera Selatan.
Kabut asap tebal juga mengganggu penerbangan di Bandara Cilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kemarin. Pesawat Garuda dari Jakarta tujuan Palangkaraya kemarin gagal mendarat di sana pada pagi hari dan memilih mendarat di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kepala Garuda Indonesia Cabang Palangkaraya Agus Dewanta, saat dihubungi, membenarkan hal itu. Menurut Agus, pembatalan pendaratan di Bandara Cilik Riwut dilakukan karena saat itu jarak pandang hanya sekitar 1.000 meter dan situasi ini tak aman untuk mendarat.
Menurut Agus, kejadian pembatalan kedatangan Garuda rute Jakarta-Palangkaraya di bandara tersebut sudah terjadi selama empat hari terakhir.
Sementara itu, di Jambi, kabut asap juga kian pekat. Adapun usaha membuat hujan dengan pesawat Casa CN 212-200 terhambat karena pesawat mengalami kerusakan. "Kami telah meminta pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminjam pesawat ke Palembang untuk membuat hujan buatan di Jambi. Sebab, kondisi kabut asap kian parah dan sangat mengganggu aktivitas penerbangan," kata Hasvia, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, kemarin.
Jarak pandang pada pagi hari hanya sekitar 300 meter, sehingga tidak memungkinkan untuk aktivitas penerbangan pesawat. "Kondisi udara di Jambi sedikit baik. Jika sudah di atas pukul 12.00 WIB, jarak pandang meningkat menjadi 2.000 meter, baru pesawat bisa mendarat atau lepas landas," ujar Muslim, prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jambi.
Adapun Gubernur Jambi Hasan Basri Agus mengatakan akan kembali mengambil kebijakan jika kabut asap dalam beberapa hari ke depan tidak bisa diatasi. "Kami lihat dulu dalam beberapa hari ke depan. Kalau memang semakin membahayakan, akan kami ambil kebijakan untuk kembali meliburkan siswa, khususnya TK dan PAUD, seperti kami lakukan pada bulan lalu," ujarnya.
PARLIZA HENDRAWAN | KARANA WW | SYAIPUL BAKHORI | JULI





