foto

Carlos Tevez. REUTERS/Nigel Roddis

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Tevez?  

TEMPO.CO, - Puluhan orang berkumpul di mansion milik Carlos Tevez di Alderley Edge, Chesire, Inggris, Kamis lalu. Mereka memasang bendera kecil bertulisan "Engkau Memalukan, Tevez" di pintu gerbangnya. Salah seorang di antara mereka berteriak-teriak dengan nada marah di depan interkom yang ada di situ.

Ini sungguh kontras dengan perlakuan mereka terhadap striker asal Argentina itu dua tahun lalu. Saat Tevez masih berstatus pemain Manchester United, suporter City merayunya dengan bersemangat. Dengan dukungan klub, saat itu mereka membuat baliho besar dengan gambar Tevez berkostum City disertai tulisan "Selamat Datang di Manchester".

Pemicu kemarahan suporter The Citizens--julukan City--tak lain adalah pernyataan pelatih Roberto Mancini yang mengatakan bahwa Tevez tak bersedia bermain saat kalah 0-2 oleh Bayern Muenchen di Liga Champions, dua hari sebelumnya.

Kemarahan itu sudah terlihat saat rombongan pemain City mendarat di Bandar Udara Manchester, Rabu lalu. Karena sadar bakal terjadi gelombang kemarahan di kalangan suporter, pengurus klub mengantisipasinya dengan menghubungi pihak kepolisian untuk meminta pengawalan ekstra.

Puluhan polisi telah bersiap di bandara beberapa jam sebelum rombongan City tiba. Mereka memberi pengawalan khusus kepada Tevez. Tiga polisi bersepeda motor mengikuti mobil Hummer milik Tevez yang membawanya pulang ke rumahnya, mansion mewah berharga 3 juta poundsterling (sekitar Rp 41 miliar).

Kemarahan suporter kadung merebak, padahal persoalannya sendiri belum jernih benar. Mancini mengklaim Tevez membangkang perintahnya untuk bermain. Sebaliknya, Tevez memiliki versi cerita yang berbeda.

Agar tak berkembang menjadi gosip yang lebih liar, pihak klub mencoba meredam persoalan dengan melarang wartawan bertanya kepada mereka soal kasus Tevez. "Pelanggaran terhadap hal itu (bertanya soal Tevez) bisa berujung pada dihentikannya sesi konferensi pers," kata juru bicara klub, Victoria Kloss.

Menurut versi Mancini, pemain berusia 27 tahun itu menolak melakukan pemanasan dan menampik perintahnya untuk turun bermain. Itu terjadi di Stadion Allianz Arena, kandang Muenchen, saat City ketinggalan 0-2 pada babak kedua.

"Dia menolak masuk ke lapangan," kata Mancini, pelatih asal Italia. "Bila keputusan tergantung saya, dia pasti keluar (dipecat). Bagi saya, dia sudah selesai."

Tevez adalah pemain yang dibeli dari MU dengan harga yang diyakini sangat tinggi, meski tak pernah diumumkan secara resmi. Hanya, pemain depan tim nasional Argentina itu menikmati gaji yang "wah" bersama City, tak kurang dari 150 ribu pound (sekitar Rp 2 miliar) per pekan.

Sebelumnya, dia sempat menjadi andalan lini depan The Citizens dan mengoleksi 52 gol dalam dua musim di segala kompetisi. Tevez bahkan ditahbiskan sebagai kapten tim oleh Mancini.

Persoalan baru muncul setelah si pemain mengaku keluarganya tak betah tinggal di Inggris. Tevez mengaku ingin kembali memperkuat klub lamanya di Argentina, Corinthians. Ini bersamaan dengan datangnya bintang-bintang baru yang membuat posisinya tak lagi menjadi andalan. Salah satu pemain yang menggeser tempatnya adalah rekannya di tim Argentina, Sergio "Kun" Aguero.

Meski begitu, tak boleh ada kalimat menolak perintah pelatih. Pemain bergaji serendah apa pun, atas nama profesionalitas, dilarang menolak perintah pelatih, apalagi pemain dengan gaji sedemikian besar.

"Tak peduli apakah seseorang bergaji 1 pound atau 250 ribu pound per pekan, kalau dia diminta bermain, ia harus turun ke lapangan," kata Robbie Savage, mantan pemain Liga Primer yang kini menjadi penyiar BBC. "Pemain tidak boleh membangkang perintah manajer."

Hanya, benarkah pernyataan Mancini itu? Tevez membantahnya. Meski tak mengungkap secara detail peristiwa yang sebenarnya terjadi, mantan pemain West Ham United ini menampik tudingan bahwa ia tak mau bermain.

"Ada kejadian yang membingungkan di bangku cadangan dan saya yakin situasi saya disalahpahami," katanya. "Saya meminta maaf kepada para pendukung City yang memiliki hubungan baik dengan saya. Saya meminta maaf atas kesalahpahaman di Muenchen."

Ada kemungkinan terjadi salah pengertian akibat penguasaan bahasa Inggris Tevez yang belum lancar benar. Cuma, hal ini bisa dibantah dengan keberadaan Pablo Zabaleta, yang juga berada di bangku cadangan. Zabaleta adalah pemain belakang yang juga berasal dari Argentina. Artinya, bila komunikasi Tevez dengan Mancini tidak nyambung, Zabaleta pastilah bisa menjadi jembatan. Zabaleta berada di City sejak 2008.

Tevez adalah pemain dengan tipe selalu ngotot mengejar bola tanpa kenal lelah. Karakter itu sungguh bertolak belakang dengan kenyataan versi Mancini--bila benar--bahwa sang pemain menolak perintah bermain.

ANDY MARHAENDRA | BERBAGAI SUMBER