Sebuah helikopter membawa tim penyelamat lepas landas untuk mengevakuasi korban kecelakaan pesawat di Bahorok, Sumatera Utara, Jumat (30/9). Tim penyelamat mencoba mencapai pesawat yang jatuh di pegunungan untuk menyelamatkan kemungkinan penumpang selamat. AP/Binsar Bakkara
Menanti Jenazah, Keluarga Korban Casa Menginap di Bohorok
TEMPO.CO, Medan - Keluarga korban jatuhnya pesawat Casa 212-200, register PK-TLF, milik maskapai PT Nusantara Buana Air (NBA), masih bertahan di posko Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Mereka tetap menanti kedatangan jenazah kerabat mereka yang tengah diupayakan untuk dievakuasi dari lokasi oleh tim SAR.
Seharusnya jenazah korban telah bisa diangkut dari lokasi jatuhnya pesawat, Gunung Gulus Kelam, Ahad pagi. Tim telah mengupayakan mengangkut lima jenazah menggunakan jaring yang diangkat melalui helikopter. Namun karena terjadi turbulensi dan heli oleng, rencana itu dibatalkan. Jenazah yang sempat terangkat, diturunkan kembali.
Namun Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Daryatmo menyatakan akan memaksimalkan upaya evakuasi pada hari ini, Ahad, 2 Oktober 2011. “Kita maksimalkan mengevakuasi korban (jenazah),” katanya.
Daryatmo menyatakan evakuasi masih terus dilakukan. “Ini faktor alam dan memang tidak sembarangan beraktivitas di areal lokasi yang berjurang,” ujar Daryatmo.
Kerabat penumpang masih bertahan di posko Basarnas di Kecamatan Bahorok. “Harapan kami, hari ini jenazah bisa dibawa,” kata Rahmawati, kemenakan dari penumpang bernama Aisyah.
Casa 212-200 register PK-TLF, Kamis pagi lalu bertolak dari Bandar Udara Polonia Medan menuju Bandar Udara Alas Leuser Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Namun sampai jadwal pendaratan, Casa 212-200 yang mengangkut 14 penumpang, 4 di antaranya balita dan 4 kru, tidak kunjung sampai di Bandara Alas Leuser.
Casa 212-200 teridentifikasi jatuh di titik koordinat 3.23 N (utara) dan 098 01 E (timur). Bangkai pesawat baru ditemukan oleh tim SAR pada Jumat kemarin melalui udara. Sementara tim SAR yang menyusuri darat tak mampu menjangkau bangkai pesawat karena faktor kawasan, hutan belantara, dan curam.
SOETANA MONANG / RAMIDI





