foto

Kerabat korban kecelakaan pesawat menangis di kantor perwakilan maskapai di Medan, Sumatera Utara, Kamis (29/9). Sebuah pesawat kecil yang membawa 18 orang jatuh di daerah pegunungan Kamis. Medan yang berat dan hujan menghambat tim pencari untuk mencapai reruntuhan. AP

Kerabat Korban Casa, “Kami Tak Sanggup Lagi Menunggu”  

TEMPO.CO, Medan - Tak ada firasat buruk terekam oleh Rosmawati boru Harahap saat melepas mantunya, Samsidar Yusni, beserta dua cucunya, Hanif Abdilah dan Hamimatul Janah. Samsidar, PNS di kantor perpajakan Kutacane, bersama 11 penumpang lainnya mengudara menuju Kutacane. Sementara suaminya, Junanda, memilih moda transportasi bus menuju Kutacane.

Tiga jam kemudian, Rosmawati sontak khawatir mendapat berita pesawat Casa 212-200, register PK-TLF, milik PT Nusantara Buana Air (NBA), yang ditumpangi mantunya dikabarkan jatuh. Bersama kerabatnya, Rosmawati menuju kantor PT NBA di Jalan Brigjen Katamso, Medan. Tak banyak informas diperoleh, menyebabkannya semakin dibalut kekhawatiran. Pekikan bercampur isak tangis membahana di ruang PT NBA yang menempati rumah toko berlantai tiga.

Kerabat lain dari penumpang Casa 212-200, Rahmawati, berinisiatif menuju lokasi tempat jatuhnya pesawat. Rahwamati bersama suami dan anaknya hari itu bergegas ke Kecamatan Bahorok. “Kami ingin mencari uak Aisyah,” kata Rahma. Namun niat menelusuri kandas di tengah perjalanan mengikuti tim SAR, mengingat kondisi hutan dan tempat jatuhnya pesawat yang belum diketahui pasti posisinya.

Keesokannya, para kerabat makin berduyun menuju Posko Basarnas di Kecamatan Bahorok. Di sana, mereka telah memperoleh kepastian bahwa pesawat yang ditumpangi keluarga mereka telah ditemukan. Namun harapan mengetahui nasib keluarganya pupus. Tim SAR belum mampu menjamah dan melihat kondisi penumpang.

Di hari ketiga, pekikan dan takbir pecah dari penantian dan harapan keselamatan kerabat mereka yang turut dalam kejadian itu. Seluruh penumpang, termasuk kru Casa 212-200, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

“Jangan disuruh menunggu lagi. Kami tak sanggup lagi menunggu,” kata Rahmawati kepada Tempo, Ahad, 2 Oktober 2011. Tim Search and Rescue diminta dapat segera membawa jenazah keluar dari lokasi jatuhnya pesawat di Gunung Gulus Kelam, perbatasan Langkat dan Aceh Tenggara. “Kami mau segera melakukan fardu kifayah. Kasihan uak yang sudah meninggal,” kata Rahma dengan isak tertahan.

Sejak Sabtu malam, Rahma menyatakan keluarganya telah menggelar tahlilan. Rencananya, kerabat akan menunggu di Rumah Sakit Adam Malik Medan dan segera melakukan prosesi pemakaman. “Jenazah uak akan disemayamkan di rumah anaknya, Jalan Gatot Subroto Medan,” kata Rahma.

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya TNI Daryatmo mengakui evakuasi jenazah belum berhasil dilakukan akibat faktor cuaca, yaitu kekuatan angin. Basarnas, kata Daryatmo, semaksimal mungkin melakukan evakuasi.

SOETANA MONANG HASIBUAN