Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menggelar rapat terkait jatuhnya pesawat Mimika Air di Papua kemarin. Rapat dipimpin Menteri Perhubugan Jusman Syafii Djamal di kantor Departemen Perhubungan, Sabtu (18/4). Foto: Dian Yuliastuti|TEMPO
KNKT Peringatkan Maskapai Cuaca Ekstrem pada Oktober-Desember
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi mengingatkan para pilot pesawat komersial untuk memperhatikan kondisi cuaca ekstrem yang terjadi pada Oktober hingga Desember tahun ini.
Utamanya, menurut dia, untuk rute penerbangan di wilayah yang memiliki hutan dan pegunungan luas. ”Angin kencang biasa mengganggu penerbangan di wilayah ini, misalnya Sumatera, Kalimantan, dan Papua,” katanya saat dihubungi, Minggu, 2 Oktober 2011.
Dalam waktu berdekatan, setidaknya dua pesawat komersial jatuh. Pada 9 September 2011, pesawat Susi Air jenis Cessna Caravan C 208 bernomor registrasi PK VVE jatuh di Wamena, Papua. Pilot dan co-pilotnya dinyatakan tewas. Penyebab kecelakaan diduga karena cuaca ekstrem di wilayah Papua. Setelah peristiwa tersebut, Kamis lalu, 29 September, kecelakaan pesawat kembali terjadi. Pesawat Casa 212-200 milik Nusantara Buana Air jatuh di perbukitan dan hutan Gunung Gulus Kelam, Kabupaten Langkat. Penyebabnya diduga akibat turbulensi udara karena cuaca ekstrem.
Menurut Tatang, wilayah yang memiliki hutan dan pegunungan luas pada bulan-bulan ini kerap muncul kabut awan. Kondisi udara, ia melanjutkan, cepat naik ke atas dengan kecepatan tinggi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) biasanya sudah memperingatkan bahaya cuaca ekstrem tersebut. ”Karena itu, hanya pilot yang berkemampuan tinggi yang disuruh terbang dalam kondisi cuaca buruk. Kewaspadaan juga ditingkatkan dua sampai tiga kali lipat,” ujarnya.
Ihwal kecelakaan pesawat Casa, hingga kini KNKT baru mulai bekerja menyelidiki penyebab pasti kecelakaan pesawat komersial tersebut. Ia belum berani memastikan kesimpulan penyebab kecelakaan, apakah karena cuaca ekstrem atau mesin pesawat. ”Kami baru mulai bekerja. Tapi kotak hitamnya sudah ditemukan. Sekarang yang penting seluruh korban sudah dievakuasi,” kata dia.
Casa 212-200 PK-TLF, Kamis lalu, mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju Bandar Udara Alas Leuser Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara. Pesawat milik maskapai PT Nusantara Buana Air ini lepas landas dari Bandar Udara Polonia Medan pada pukul 07.28 WIB. Namun hingga pukul 08.03 WIB, tak kunjung mendarat di Bandar Udara Alas Leuser. Sekitar pukul 09.30 WIB, pesawat diketahui jatuh di perbukitan dan hutan Gunung Gulus Kelam.
Kecelakaan pesawat yang menyebabkan 18 korban meninggal itu diduga akibat turbulensi udara. Kemungkinan itu disampaikan Menteri Perhubungan Freddy Numberi setelah menerima laporan dari regu penolong yang turun ke lokasi jatuhnya pesawat. ”Embusan angin sangat kuat,” kata dia saat memberi keterangan pers di hanggar Pangkalan Udara Medan, Sabtu kemarin.
Menurut dia, BMKG sebenarnya sudah memberi peringatan tentang cuaca buruk sejak pekan lalu. Salah satu peringatan itu adalah kecepatan angin di kawasan Gunung Leuser yang bisa mencapai 30 kilometer per jam. Embusan sekencang itu, kata dia, bisa menyebabkan turbulensi dan membuat pesawat jenis Casa kehilangan kendali. Namun untuk memastikan itu, dia masih menunggu hasil penyelidikan KNKT.
MUHAMMAD TAUFIK





