Rekening Palsu Bikinan Ibrahim

TEMPO.CO, Jakarta - Mungkin Anda tak membayangkan kalau ada orang seperti H. Ibrahim, 59 tahun. Dia keluar-masuk bank hanya untuk membuat rekening, dengan identitas palsu tentunya, lalu menjualnya.

Menekuninya sejak 2009, Ibrahim mengaku melakukan modus itu hanya untuk mencari tambahan penghasilan. “Pendapatannya tak seberapa,” katanya di Markas Polda Metro Jaya, Senin 3 Oktober 2011.

Ibrahim dicokok sebagai bagian dari sindikat pembobol mesin kartu kredit yang diumumkan polisi Kamis lalu. Sebanyak 14 anggotanya diduga beraksi sejak 2010 dan menggangsir uang hingga Rp 81 miliar.

Sindikat itu adalah satu diantara pengguna jasa Ibrahim. Rekening buatannya digunakan untuk menampung uang hasil membobol mesin kartu kredit.

Kepada para wartawan Ibrahim mengaku tidak terlibat dalam sindikat itu. Ia tak tahu setiap rekening yang dijualnya untuk apa. Ia hanya tahu bahwa rekening tersebut bisa dijual sehingga dapat memberikan penghasilan tambahan.

Untuk membuat rekening dengan identitas palsu, Ibrahim mngisahkan dia berkeliling ke bank-bank saban bulan. Bermodalkan uang Rp 500 ribu dan identitas palsu, ia membuka rekening. “Ada bank yang mudah, ada juga yang sulit,” ujarnya.

Setelah rekening terbuka, ia kemudian mencari orang yang hendak membeli. “Nanti ada yang hubungi saya. Terus kami bertemu di mal,” ujarnya.

Setiap rekening dipatoknya harga sekitar Rp 350 ribu. Tentu saja, sebelum dilepas, uang dalam rekening dikurasnya terlebih dulu.



ANANDA BADUDU