Priyo Budi Santoso. TEMPO/Imam Sukamto
Infografis
Priyo Minta Koleganya di DPR Legowo Atas Kritik Publik
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Priyo Budi Santoso, menilai wajar hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan hancurnya kepercayaan publik terhadap politikus. Menurut dia, survei tersebut harus disikapi dengan lapang dada oleh semua pihak.
"Karena pemberitaan selama sekian bulan terakhir begitu mendera dari semua lini, wajar saja kalau kemudian citra politikus dan parpol merosot tajam. Menurut saya, ini harus diterima lapang dada," ujarnya kepada wartawan di Gedung MPR/DPR, Senin 3 Oktober 2011.
LSI menyimpulkan citra politikus berada di titik nadir sepanjang sejarah politik Indonesia. Budaya korupsi politikus pusat dan daerah telah menghancurkan kepercayaan publik. "Ini harus segera diperbaiki," kata peneliti LSI, Adrian Sopa, dalam pemaparan hasil survei "Badan Anggaran dan Memburuknya Citra Politisi di Mata Publik" di Jakarta, Ahad, 2 Oktober 2011 kemarin.
LSI melakukan jajak pendapat terhadap 1.200 responden pada 5-10 September lalu di 33 provinsi. Survei dilakukan dengan multistage random sampling atau metode acak. Pertanyaan disebar ke daerah terpilih sesuai dengan populasi 33 provinsi itu dengan tingkat kesalahan 2,9 persen. Hasilnya diperkuat oleh penelitian kualitatif dari 100 responden, terdiri atas politikus, akademisi, dan praktisi media.
Hanya 23,4 persen responden menilai kinerja politikus positif. Angka ini turun sekitar 20,8 persen dibanding hasil survei enam tahun lalu. Sebanyak 51,3 persen responden menilai kinerja politikus buruk dan sangat buruk. Politikus yang dimaksudkan bukan hanya anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan menteri, tapi juga kepala daerah.
Penyebab utama turunnya citra politikus adalah banyaknya kasus korupsi dalam enam tahun terakhir yang melibatkan mereka. Sebanyak 125 kepala daerah menjadi tersangka, terdakwa, dan terpidana korupsi. Sebanyak 19 anggota dan bekas anggota DPR bersalah dalam kasus cek pelawat.
Apalagi disusul sejumlah anggota Badan Anggaran ikut terseret kasus korupsi. Budaya korupsi lintas partai yang memainkan anggaran sudah melibatkan Badan Anggaran. LSI pun menilai persekongkolan di Badan Anggaran lebih terbuka dan melibatkan banyak orang dalam enam tahun terakhir. "Politikus lintas partai terkesan tak peduli efek korupsi," kata Adrian
Priyo mengaku tak terkejut dengan hasil survei tersebut. Tanpa survei pun, kata dia, citra politikus bakal merosot drastis. Sejak bergulirnya kasus korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, ia mengatakan pemberitaan media cenderung negatif. Hal ini yang menurutnya mempengaruhi presepsi publik terhadap politikus.
Namun politikus Partai Golkar ini berharap hasil survei tersebut bisa menjadi bahan evaluasi bagi para politikus dan parpol. "Survei LSI itu menurut saya biasa-biasa saja. Tanpa survei pun orang tahu, sejak kasus Nazaruddin mencuat, kemudian bergiliran seperti bola salju," ujar dia lagi.
FEBRIYAN





