foto

TEMPO/Dasril Roszandi

Warga Terbelah Soal Kenaikan Tarif Jalan Tol  

TEMPO.CO, Jakarta - Sikap masyarakat terbelah dalam menyikapi rencana kenaikan tarif jalan tol. Ada yang tegas menolak, tapi bukan berarti tidak ada yang mendukung.

Adikara (24), misalnya. Pengguna ruas tol mulai dari Bintaro hingga Kelapa Gading setiap harinya itu menolak mentah-mentah. Menurut dia, kenaikan tarif tidak diimbangi dengan pelayanan di jalan tol yang bagus. "Jalan tol tetap saja macet," ujarnya, Senin 3 Oktober 2011.

Menurut Adikara, dengan semakin banyaknya pengguna jalan tol seharusnya tarif bisa lebih murah. Dia sendiri selama ini harus merogoh sekitar Rp 40 ribu untuk perjalanan pergi-pulang setiap harinya. “Saya tidak setuju kalau tarif tol naik,” katanya.

Begitu juga dengan Katri, warga Puri Kembangan, Jakarta Barat. Ia menentang kenaikan tarif tol lantaran jalan yang ia lalui kerap macet. “Saya biasanya pakai tol Kebon Jeruk dan sering macet,” ucapnya.

Berbeda dengan Aryo (26) yang mengaku tak keberatan jika tarif tol naik. Asalkan, dia memberi syarat, pelayanan ikut membaik. Ada pelebaran jalan. "Terutama jalannya diperbaiki. Masih ada yang bergelombang, seperti di tol lingkar luar Serpong," katanya.

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) akan menaikkan tarif 14 ruas tol. Kenaikan diperkirakan sebesar 11-13 persen. Rencana ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, kenaikan tarif tol dilakukan setiap dua tahun dan disesuaikan dengan inflasi. Kenaikan dilakukan untuk mempertahankan internal rate of return atau pengembalian investasi.

Menurut Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Frans S. Sunito, atas kenaikan tarif tol ini, pendapatan (revenue) Jasa Marga diprediksi naik menjadi Rp 4,8 triliun pada akhir tahun. Total pendapatan ini naik 30 persen dari pendapatan 2009 sebesar Rp 3,6 triliun. Tahun lalu pendapatan Jasa Marga Rp 4,28 triliun.

ADITYA BUDIMAN