foto

Pedagang cabai merah. TEMPO/Dasril Roszandi

BPS: Waspada Kenaikan Harga Cabe

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) meminta pemerintah mewaspadai lonjakan kenaikan harga karena tingginya permintaan cabe di masyarakat sampai akhir tahun ini.

"Andil inflasi beras dan cabe sudah hampir sama," ujar Rusman Heriawan, Kepala Badan Pusat Statistik, saat paparan inflasi bulanan di kantor BPS, Senin, 3 Oktober 2011.

Ia mengatakan selama 6 bulan terakhir ini, masyarakat menikmati harga cabe yang rendah. Pemerintah perlu membuat upaya agar masyakat beralih pada cabe kering.
"Jangan sampai ada cerita seperti tahun lalu. Kami harus turun ke sentral-sentral untuk mendata."

BPS juga meminta pemerintah dan Bulog  menyiapkan dan merealisasikan  cadangan stok beras 1 juta ton. Namun, impor beras jangan sampai melewati batas Desember atau awal Januari 2012.

"Stok ini untuk mengamankan cadangan dan raskin, serta melakukan operasi pasar saat terjadi lonjakanm" katanya. "Tidak serta-merta beras impor langsung beredar di pasar."

Ia mengatakan adanya pembekuan impor dari Thailand hanya sesaat, karena negeri Gajah Putih tersebut pada akhirnya harus mengeluarkan stok lebih berasnya ke pasar.

"Ini hanya sebentar saja karena ketidakcocokan harga. Pasti nanti akan dilempar ke pasar," ujarnya.

Data BPS menunjukkan tekanan inflasi pada September berasal dari beras 0,08 persen, cabe merah 0,08 persen, dan emas perhiasan yang sebelumnya memberikan andil inflasi paling besar hanya 0,05 persen.

Sedangkan penurunan harga terjadi pada komoditas daging ayam, telur ayam, ikan segar, bawang merah, dan bawang putih. Total inflasi pada September mencapai 0,27 persen.

Dengan laju inflasi tahunan 4,61 persen. Selama Januari sampai September inflasi mencapai 2,97 persen. Komponen inflasi inti September mencapai 0,39 persen, tahun inti kalender 3,85 persen, dan inflasi inti year on year mencapai 4,93 persen.

"Melihat pada data, laju inflasi tahun 2011 bisa lebih rendah dari target pemerintah," ujarnya.

ALWAN RIDHA RAMDANI