foto

Bongkar muat CPO di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (23/10). Pemerintah menerapkan kebijakan penurunan tarif pungutan ekspor minyak kelapa sawit mentah dari 7,5 persen menjadi 2,5 persen. TEMPO/Puspa Perwitasari

India Topang Ekspor Indonesia  

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik mengungkapkan di tengah perlambatan ekspor ke Jepang, Korea Selatan, serta Amerika Serikat, pertumbuhan ekspor Indonesia ke India justru meningkat.

Ekspor ke India naik menjadi US$ 1,38 miliar pada bulan Agustus dibandingkan bulan Juli yang hanya  US$ 1,03 miliar. "Ini kenaikan yang cukup tinggi, di tengah mulai defisitnya ekspor ke Korea dan Jepang yang biasanya surplus," ujar Rusman Heriawan, Kepala Badan Pusat Statistik, dalam paparan bulanan di kantor BPS, Senin, 3 Oktober 2011.

Ia mengatakan dengan keadaan pertumbuhan ekspor beberapa bulan ini, BPS optimistis target ekspor bisa melebihi US$ 200 miliar. Total ekspor sampai Agustus sudah US$ 134, 85 miliar. Namun, pemerintah harus tetap mewaspadai krisis yang melanda Amerika dan Eropa.

"Krisis ini harus disikapi secara sungguh-sungguh karena faktanya dalam beberapa bulan ke depan akan ada dampak negatif juga."

Rusman menjelaskan peningkatan ekspor ke India ditopang oleh pertumbuhan ekspor minyak sawit (CPO). "Makanya, kami masukkan India sebagai negara yang cukup dominan dalam perdagangan bilateral," katanya.

BPS mencatat pertumbuhan ekspor Agustus tertinggi dibandingkan bulan sebelumnya di tahun 2011. Nilai ekspor pada Agustus mencapai US$ 18,81 miliar, meningkat 8 persen dibandingkan ekspor Juli yang hanya US$ 17, 4 miliar. Dengan rincian ekspor migas US$ 14,72 dan nonmigas US$ 107, 3 miliar.

Sedangkan impor Agustus turun 7,12 persen atau setara dengan US$ 15,05 miliar dibandingkan impor Juli yang mencapai US$ 16,21 miliar. Total ekspor dari awal tahun sampai Agustus ini mencapai US$ 87,89 miliar, meningkat 30,90 persen.

"Tapi secara keseluruhan Indonesia masih surplus sebesar US$ 20 miliar," kata Deputi Bidang Statistik dan Distribusi BPS, Djamal.

Ia mengatakan defisit perdagangan Indonesia dengan Cina terus menuju kestabilan. Defisit sudah mencapai US$ 61 juta. Ekspor Indonesia ke negara itu diprediksi tidak akan terganggu imbas krisis karena barang yang diekspor umumnya barang tambang berupa batu bara serta karet.

"Ini sudah mengarah pada perdagangan bilateral yang seimbang," katanya. "Indonesia sendiri diuntungkan dengan nilai kurs dolar."

BPS meminta pemerintah mengembangkan negara tujuan ekspor lain, terutama ke Timur Tengah dan Afrika, walupun, daya serap ekspor dua kawasan ini masih sedikit dibandingkan kawasan Asean dan Eropa. Komoditas yang bisa diekspor terutama barang konsumsi atau elektronik. "Cegah krisis dengan melihat peluang diversifikasi ekspor," ujar Rusman

ALWAN RIDHA RAMDANI