AP Photo
Topik
Babak Baru Misi Antariksa Cina
TEMPO.CO, Beijing - Laboratorium antariksa pertama Cina, Tiangong-1, meluncur ke orbit pada Kamis malam lalu, hanya berselang sehari sebelum perayaan Hari Nasional Cina pada 1 Oktober. Peluncuran Tiangong, yang bermakna istana surgawi, adalah demonstrasi kemajuan pesat Cina dalam dunia antariksa yang pernah didominasi Amerika Serikat.
Tiangong-1 diusung ke antariksa menggunakan roket Long March 2F dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di sebelah barat laut Cina. "Ini adalah tes yang amat signifikan," kata Lu Jinrong, kepala perekayasa di pusat peluncuran itu.
Peluncuran Tiangong-1 akan diikuti dengan wahana antariksa nir-awak Shenzou-8, yang akan diterbangkan bulan mendatang. Cina akan mencoba mendaratkan Shenzou pada galangan Tiangong. Proses docking ini dianggap sebagai salah satu elemen utama untuk melakukan eksplorasi antariksa dalam jangka waktu lama.
Modul tes itu dirancang untuk menguji teknologi docking, yang merupakan langkah penting dalam mewujudkan rencana Cina mengorbitkan sebuah stasiun berawak di antariksa, bertetangga dengan Stasiun Antariksa Internasional (ISS), yang merupakan proyek gabungan lima badan antariksa, yaitu NASA (Amerika Serikat), RKA (Rusia), JAXA (Jepang), ESA (Uni Eropa), dan CSA (Kanada).
Ketua tim perancang program antariksa berawak Cina, Zhou Jianping, menyatakan teknologi docking adalah aspek yang paling berisiko dalam program antariksa yang melibatkan manusia. "Kami tidak ingin mengandalkan teknologi dari negara lain," kata Zhou. "Jadi kami harus membuatnya sendiri."
Dia menjelaskan bahwa Amerika Serikat dan Rusia telah mengembangkan berbagai prosedur teknologi docking, tapi hanya untuk pendaratan tunggal untuk setiap misi. Berbeda dengan gaya ISS, Tiangong-1 akan menjadi tambatan bagi tiga wahana sekaligus, Shenzhou-8, 9, dan 10, untuk menghemat biaya. Untuk menunjang misi itu, Zhou dan timnya telah mengembangkan sistem radar laser dan radar gelombang mikro tercanggih.
Salah satu tantangannya adalah menjaga jarak beberapa sentimeter di antara kedua wahana antariksa sebelum mereka tersambung. Mereka juga membutuhkan pembakaran sejumlah kecil bahan bakar untuk menuntaskan proses penambatan yang berlangsung secara robotik itu.
"Momen yang paling menegangkan akan berlangsung pada saat penambatan ketika serangkaian operasi harus diselesaikan dengan cepat dan akurat, atau wahana yang bekerja dengan kecepatan 7,7 kilometer per jam itu akan berakhir menjadi bencana," ujarnya, seperti dikutip Xinhua.
Agar proses docking berjalan sesuai dengan rencana, Cina akan meluncurkan tiga wahana antariksa pada waktu yang berbeda. Uji coba akan berlangsung pada orbit rendah Bumi.
Tiangong-1 akan berada di orbit selama 2 tahun. Selain mengemban misi uji coba proses docking, modul itu membawa sejumlah eksperimen rekayasa dan medis ke antariksa.
TJANDRA DEWI | AP | XINHUA





