Sejumlah tim gabungan dari TNI, Polri dan Basarnas mengangkat kantong berisi jenazah korban pesawat Casa 212-200 PK-TLF, di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumut, Minggu (2/10). ANTARA/Irsan Mulyadi
Topik
Infografis
Sulitnya Mengevakuasi Korban Casa
TEMPO.CO, Medan - Semua jenazah korban Casa 212-200, yang terdiri atas 4 kru dan 14 penumpang, bisa dievakuasi tim Search And Rescue (SAR). Korban diambil dari bangkai pesawat dari tebing curam di kawasan pegunungan Leuser, Bahorok, Sumatera Utara, dengan helikopter.
Pesawat milik PT Nusantara Buana Air yang jatuh pada Kamis pekan lalu itu kemarin baru bisa dievakuasi penumpangnya lantaran medan sulit dan cuaca buruk. "Posisi pesawat tergeletak di kemiringan sekitar 70 derajat. Sedikit kesalahan bisa menyebabkan badan pesawat jatuh ke jurang," kata Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Daryatmo kemarin.
Sulitnya medan menuju lokasi bangkai pesawat itu juga menyebabkan lambannya gerak regu penolong yang menempuh jalur darat. Tim SAR terpaksa melakukan teknik pass roofing alias memberi pertolongan dari helikopter dengan menggunakan tali. "Tidak ada jalan lain," kata dia.
Anggota tim yang berhasil turun ke badan pesawat langsung mengumpulkan jenazah, yang sebagai besar masih terikat di kursi. Mereka memasukkan tubuh penumpang ke dalam jaring, selanjutnya ditarik ke atas oleh helikopter dan dibawa ke Lapangan Turangie, Bahorok. Evakuasi pertama berlangsung pada pukul 12.15 WIB. Enam jenazah diturunkan.
Suasana histeris pecah di posko darurat Lapangan Turangie. Penduduk dan keluarga korban merangsek mendekati jenazah. Evakuasi korban berakhir pada pukul 17.00, ditandai dengan diturunkannya empat penumpang pesawat dari jaring helikopter. Setelah diidentifikasi, korban dibawa ambulans menuju Rumah Sakit Pusat Adam Malik, Medan.
Keinginan sejumlah keluarga korban membawa jenazah langsung pulang ke rumah mereka tak dikabulkan. "Jenazah tidak mungkin dibawa langsung oleh keluarga sebelum dilakukan identifikasi agar mayat tidak tertukar," kata Kepala Kepolisian Daerah Daerah Sumatera Utara Inspektur Jenderal Wisjnu Amat Sastro.
Menjelang petang, semua jenazah tiba di rumah sakit. Menurut tim dokter Disaster Victim Identifikasi, dr Reinhard Hutahaean, tubuh korban umumnya dalam keadaan utuh, tapi wajah korban sudah rusak. "Mayat belum membusuk sehingga masih mudah dikenali," kata Reinhard.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi mengaku belum ada kesimpulan soal penyebab kecelakaan Casa yang berangkat dari Bandar Udara Polonia, Medan, menuju Kotacane, Aceh Tenggara, itu. "Kami baru mulai bekerja jika kotak hitam pesawat sudah ditemukan," kata Tatang. Kemarin kotak hitam pesawat sedang dalam pencarian.
SAHAT SIMATUPANG | SOETANA MONANG H. | MUHAMMAD TAUFIK
Nama Korban Casa 212-200
Kru
- Famal Ishak (kapten pilot)
- Budiono (kopilot)
- Nico Matulessy (teknisi)
- B. Soetopo (petugas operator penerbangan)
Penumpang
- Aisyah
- Astuti
- Suriadi
- Tia Apriliani
- dr Suhelman
- dr Juli Dhallana
- Siwa Sanbugan
- Jefridin
- Timau Karsu
- Andi Raylan M.
- Ahmad Arief
- Samsidar
- Hamimatul Janah
- Hanif Abdilah





