Sejumlah wisatawan menaiki Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, Serang, Banten (2/4) . ANTARA/Rosa Panggabean
Topik
Gunung Anak Krakatau Masih Siaga
TEMPO.CO, Serang - Gunung Anak Krakatau yang terletak di Perairan Selat Sunda terus menunjukkan aktivitasnya dengan status level tiga atau siaga. Selain mengalami kegempaan, Gunung Anak Krakatau ini juga terus mengeluarkan embusan asap tebal yang membubung hingga ketinggian 600-700 meter.
Gunung berapi itu rata-rata mengalami aktivitas kegempaan sekitar 6.000-7.000 kali. “Status Gunung Krakatau naik dari II menjadi III atau siaga. Kenaikan status ini tercatat sejak tanggal 30 Oktober 2011, atau dua hari lalu,” kata Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Anton Tripambudi, Senin, 3 Oktober 2011.
Gunung Anak Krakatau dinaikkan statusnya dari waspada menjadi siaga menyusul makin aktifnya kegempaan gunung api ini. Gempa vulkanik yang biasanya hanya berlangsung 100 hingga 300 kali sejak awal Oktober ini menjadi 6.000-7.000 kali per hari.
Data pos pemantau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, mencatat kegempaan Gunung Anak Krakatau setiap enam jamnya berlangsung antara 1.300 hingga 1.600 kali.
Menurut Anton, meski kegempaan Gunung Krakatau rata-rata lebih dari seribu kali tiap jamnya, aktivitas gunung ini tidak mengganggu kegiatan pariwisata yang ada di sepanjang Pantai Anyer hingga Pantai Carita.
Dengan kenaikan status kegempaaan Gunung Krakatau ini Anton berharap masyarakat dan nelayan tidak panik. Namun pihaknya tetap meminta warga berhati-hati. “Rekomendasi yang kami keluarkan kepada siapa pun baik nelayan maupun turis untuk tidak mendekat pada radius dua kilometer, dan selebihnya aman atau bisa melakukan aktivitas seperti biasa,” katanya.
Sementara itu, Adam, 38 tahun, warga Bengras, Desa Sukanegara, Kecamatan Carita, mengatakan dia tidak terpengaruh dengan aktivitas gunung tersebut. Warga sudah terbiasa mendengar suara letusan yang dikeluarkan oleh Gunung Anak Krakatau itu, kata dia. "Di sini aman-aman saja, tidak ada kepanikan warga akibat aktivitas gunung itu," kata Adam.
Menurut Adam, Gunung Anak Krakatau pada 2010 lalu pernah mengeluarkan suara letusan. "Namun karena kami sudah terbiasa mendengar suara letusan itu, jadi tidak panik," ujar dia lagi.
WASI’UL ULUM





