Seorang pekerja memanen kelapa sawit di PT. Perkebunan Nusantara XIII Lorong Pinang, Paser, Kaltim (28/09). Pengolahan kelapa sawit ini mampu memproduksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 60 ton per-jam. TEMPO/Ayu Ambong
Topik
Kinerja Industri Minyak Sawit Olahan Indonesia Rendah
TEMPO.CO, Jakarta - Meski termasuk produsen minyak sawit terbesar di dunia, kinerja industri kelapa sawit Indonesia masih rendah dibanding dengan Malaysia yang merupakan pesaing utama di sektor tersebut. "Terutama dalam kinerja industri olahan minyak sawit," kata Kepala Sub-Direktorat Industri Hasil Perkebunan Nonpangan Lainnya di Kementerian Perindustrian, Sri Hadisetyana, Selasa 4 Oktober 2011.
Hingga sekarang, dari total ekspor minyak sawit Indonesia, baru 30 persen yang berupa minyak sawit olahan. Sedangkan sisanya masih berupa minyak sawit nonolahan.
Kondisi sebaliknya terjadi di Malaysia, dengan mayoritas atau 70 persen produk ekspornya adalah minyak sawit olahan. Walhasil nilai tambah yang diperoleh juga jauh lebih tinggi dibanding Indonesia.
Dari sisi nilai tambah, minyak sawit (CPO) yang diolah menjadi produk turunan bisa memiliki nilai tambah hingga 12 kali lipat. Sri mencontohkan, CPO yang diolah menjadi minyak goreng bisa memiliki nilai tambah sekitar 60 persen, RBD stearine 90 persen, margarine 180 persen, fatty acids 300 persen.
Adapun CPO yang diolah menjadi fatty alcohol bernilai tambah 400 persen, metil ester 500 persen, surfaktan 800 persen, dan jika diolah menjadi kosmetik bisa memperoleh nilai tambah hingga 1.200 persen. "Sayang sekali kalau hilirisasi tidak segera dilakukan.”
Kodisi tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya faktor kebijakan yang kurang mendukung tumbuhnya industri hilir kelapa sawit. Aturan bea keluar CPO yang lama juga tidak membedakan antara produk hilir dan produk hulu.
"Namun sekarang sudah dilakukan revisi bea keluar CPO, sehingga bea keluar produk semakin ke hilir semakin rendah. Ini akan memacu hilirisasi produk minyak sawit," kata Sri. Teknologi di industri Malaysia yang lebih baik dibanding Indonesia juga menjadi penyebab.
Di sisi produksi minyak sawit berdasarkan luas lahan, Malaysia juga memiliki kinerja yang relatif lebih tinggi. Pada 2010 luas perkebunan kelapa sawit di Malaysia mencapai 5,1 juta hektare yang mampu memproduksi minyak sawit sekitar 19,3 juta ton per tahun. Sedangkan Indonesia yang memiliki luas lahan sekitar 7,1 juta hektare baru menghasilkan 22 juta ton per tahun.
Susanto Lim, Direktur Utama PT Sarana Trimitra Solusindo, salah satu industri penyedia jasa teknologi pengolahan minyak sawit, mengatakan teknologi adalah salah satu faktor penentu peningkatan produktivitas dan kinerja industri kepala sawit. "Industri kelapa sawit kita masih ketinggalan di sisi teknologi, penerapan teknologi tinggi juga hanya pada para pemain besar saja, teknologi yang dipakai masih rendah," katanya.
Hal senada juga diungkapkan Direktur Utama Fireworks Indonesia, Susan Tricia. "Teknologi baru akan menambah efektivitas dan efisiensi kerja pabrik kelapa sawit sekaligus mampu menambah produksi dalam waktu bersamaan," katanya.
Karena itu PT Fireworks Indonesia akan menggelar pameran industri minyak sawit terbesar di pada 12-14 Oktober 2011 di Medan. Beragam teknologi dari produsen dalam dan luar negeri akan dipamerkan. "Kami juga akan menggelar seminar dan workshop guna mencari solusi memaksimalkan kinerja dan industri kelapa sawit Indonesia," ucap Susan.
AGUNG SEDAYU | DEWI SUCI RAHAYU





