Indonesia Keluar Dari RSPO, Ekspor Tak Terpengaruh
TEMPO.CO, Jakarta - Keluarnya Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dari keanggotaan Roundtable Sustainability Palm Oil (RSPO) dinilai tidak akan mengganggu kinerja ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia. “Industri sawit kita aman, pemerintah juga telah memiliki standar sendiri yaitu Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang diakui secara internasional," kata Tenaga Ahli Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Timbun Aritonang, Selasa 4 Oktober 2011.
Bahkan dengan posisi Indonesia yang menjadi produsen terbesar CPO dunia saat ini, langkah Gapki tersebut justru bisa menjadi alat menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. "Kalau mereka butuh sawit, bisa langsung datang ke Indonesia berinvestasi dan ambil sendiri sawitnya," ucapnya.
Kepala Sub Direktorat Industri Hasil Perkebunan Non Pangan Lainnya, Kementerian Perindustrian, Sri Hadisetyana mengatakan industri sawit memang harus mengikuti standar industri berbasis lingkungan. Standar yang saat ini berlaku terutama di sejumlah negara maju seperti Eropa dan Amerika adalah RSPO. "Namun pemerintah Indonesia juga telah punya standar sendiri. Dan itu juga sudah cukup," katanya.
Sri yakin, meskipun Gapki keluar dari RSPO, Indonesia akan tetap menjadi pemimpin produsen minyak sawit dunia. Tahun lalu Indonesia mampu memproduksi 22 juta ton minyak sawit dan menguasai 43,6 persen pasar minyak sawit dunia. Sedangkan Malaysia yang merupakan pesaing utama Indonesia hanya mampu memproduksi 19,3 juta ton dan menguasai 36,2 persen pangsa pasar internasional.
"Apalagi Malaysia sudah tidak lagi mampu melakukan penambahan lahan kelapa sawit, sedangkan kita masih bisa melakukan perluasan," katanya. Saat ini luas perkebunan kelapa sawit di Malaysia mencapai sekitar 5,9 juta hektare.
Sedangkan Indonesia memiliki 7,1 juta hektare perkebunan sawit. Dan itu masih bisa dikembangkan menjadi sekitar 9 juta hektare. Pemerintah menargetkan pada 2020 produksi CPO Indonesia bisa mencapai 40 juta ton per tahun sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin di industri sawit dunia.
Sekretaris Perusahaan PT BW Plantation Tbk (BWPT) Kelik Irwantono mengatakan ekspor minyak sawit dari Indonesia tidak akan terganggu dengan langkah Gapki keluar dari RSPO. Alasannya pasar utama minyak sawit yaitu Cina dan India tidak menuntut aturan sertifikasi itu.
"Dua negara itu ditambah Indonesia merupakan pasar minyak sawit terbesar di dunia," kata Kelik. Ekspor CPO Indonesia ke Eropa dan Amerika yang merupakan salah satu konsumen CPO berstandar RSPO saat ini memang belum terlalu besar.
Gapki secara resmi sudah menyatakan keluar dari keanggotaan RSPO pada tanggal 29 September 2011. Ketua Gapki, Fadil Hasan mengatakan keputusan itu sudah melibatkan dewan pengurus dan pembina Gapki sebagai wujud komitmen mereka untuk mendukung ISPO sebagai platform industri minyak sawit berkelanjutan di Indonesia.
Meskipun menyatakan keluar dari RSPO, anggota Gapki tetap diperbolehkan untuk tetap menjadi anggota RSPO. "Gapki tetap memberikan keleluasaan serta kebebasan kepada anggotanya untuk tetap menjadi anggota RSPO," katanya.
AGUNG SEDAYU





