TEMPO/Aditia Noviansyah
Topik
Pakistan Meradang Dituduh Afganistan
TEMPO.CO, ISLAMABAD:-- Pakistan dengan berang menampik tuduhan jiran mereka, Afganistan, bahwa Dinas Intelijen Pakistan ISI terlibat dalam aksi bom bunuh diri yang menewaskan bekas Presiden Afganistan Burhanuddin Rabbani. “Kami menyesalkan pernyataan Menteri Dalam Negeri Afganistan, yang tak bertanggung jawab,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan Hina Rabbani Khar Senin 3 Oktober 2011.
Menurut dia, tuduhan itu sama sekali tak berdasar. “Perdana Menteri Pakistan Yusuf Raza Gilani bahkan menawarkan kerja sama investigasi,” ujar Rabbani Khar. Sebelumnya, Presiden Afganistan Hamid Karzai menyebutkan bahwa pelaku bom bunuh diri itu warga Pakistan yang tinggal di Chaman, kota perbatasan Pakistan, tidak jauh dari Quetta.
“Bukti menunjukkan bahwa pembunuhan itu direncanakan di kota Quetta, Pakistan,” kata Karzai, mengutip pihak penyidik. Sirajuddin Haqani, pemimpin Jaringan Haqqani, ikut menampik tuduhan keterlibatan kelompoknya. “Kami tidak membunuh Burhanuddin Rabbani, dan pernyataan ini sudah diulang berkali-kali,” ujar Haqqani kepada BBC.
Kendati begitu, ia membenarkan kedekatan kelompoknya dengan ISI. Tapi, kata dia, “Itu di masa pendudukan Uni Soviet pada dekade 1980-an.” Saat itu, Haqqani menuturkan, para pejuang Mujahidin, kelompok yang didirikan mendiang Rabbani, melakukan hubungan dengan dinas intelijen dari negara-negara lain.
"Cuma setelah Amerika Serikat menginvasi Afganistan, tak ada lagi kontak dengan intelijen asing yang efektif bagi kami," ucap Haqqani. Meski demikian, sejumlah dinas intelijen asing tetap berupaya menghubungi mereka. "Mereka dari negara Islam dan non-Islam, termasuk Amerika Serikat." Kabarnya, mereka meminta Haqqani meninggalkan jihad.
Sebab, Haqqani menambahkan, mereka mendalangi sejumlah serangan terhadap Kedutaan Amerika Serikat, markas Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan target-target lain di Ibu Kota Kabul. Karena itu, Amerika mengincar Haqani dan menghargai kepala Sirajuddin Haqqani sebesar US$ 5 juta atau sekitar Rp 44 miliar. Ia dicap salah satu buron teroris.
Amerika juga terus meningkatkan tekanan pada Pakistan untuk mengambil langkah tegas dalam menghadapi Jaringan Haqqani, yang diduga kuat terkait dengan Taliban. "Amerika Serikat akan melakukan apa pun untuk membela pasukannya dari serangan militan yang berbasis di Pakistan," kata Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta.
Perdana Menteri Gilani menyatakan pemerintah siap berunding dengan militan. "Semestinya kita mengedepankan perdamaian dengan menggelar dialog," ujarnya. "Jika gagal, barulah kami menggelar operasi militer di wilayah-wilayah kesukuan." Sejumlah laporan menyebutkan masalah ini kian memperkeruh hubungan pemerintah Afganistan dan Pakistan.
AP | REUTERS | RIANOVOSTI | ANDREE PRIYANTO





