foto

Sejumlah tim gabungan dari TNI, Polri dan Basarnas mengangkat kantong berisi jenazah korban pesawat Casa 212-200 PK-TLF, di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumut, Minggu (2/10). ANTARA/Irsan Mulyadi

Tim SAR Casa 212 dan Jurnalis Diserang Hipotermia  

TEMPO.CO, Medan - Tugas berat Tim Search and Rescue (SAR) mengevakuasi korban Casa 212-200 PK-TLF milik PT Nusantara Buana Air menyisakan pelbagai cerita dramatis. Ini dialami Sersan Dua Dian Riansyah, personel pertama yang mendarat di sekitar bangkai pesawat di kawasan Gunung Hulu Sikelam, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Serda Dian Riansyah bersama rekannya, Brigadir Satu Masrul dari satuan Brigade Mobil Polda Sumatera Utara, harus melawan iklim anomali. Kedua personel SAR ini adalah tim pertama yang berhasil diturunkan dari helikopter untuk mencapai titik jatuhnya pesawat.

Diakui Dian, selama berada di kawasan hutan mereka harus melawan cuaca yang tak bersahabat. "Mengalami hipotermia atau suhu badan turun di bawah suhu normal," kata Dian. Selain cuaca, mereka juga harus bertempur dengan topografi yang berat dan beban bawaan yang mencapai 25 kilogram. "Dalam tas ransel saya ada makanan, obat, dan juga peralatan," kata dia.

Kondisi tersebut juga dialami Zulfahmi, kru dari TV One, yang mengikuti tim SAR menempuh jalur darat. Setibanya di posko Basarnas di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Fahmi langsung dilarikan ke rumah sakit.

Kepala Biro TV One Medan, Linova Rifianti, mengatakan Fahmi mengalami serangan hipotermia. "Selama perjalanan mereka melewati medan yang berat dan melewati air terjun," kata Nova.

Selain cuaca dan topografi, tim yang diikuti kru televisi tersebut juga harus bertahan hidup dalam hutan dengan persediaan makanan seadanya. "Mereka harus makan dengan nasi mentah dan mi yang dimakan bersama 12 orang," ujar Nova mendampingi Fahmi di RSU Zulham, Kota Binjai.

Kecelakaan Casa 212-200 PK-TLF, Kamis pagi pekan lalu, yang take off dari Bandar Udara Polonia Medan menuju Bandara Alas Leuser Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, menewaskan 14 penumpang dan empat kru pesawat. Semuanya sudah dievakuasi.

SOETANA MONANG HASIBUAN