foto

Nokia. REUTERS/Bob Strong

Impor Produk Digital di Indonesia Lebih Tinggi dari Ekspor  

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar mengatakan kontribusi ekspor industri digital mencakup 6 persen dari total ekspor nasional. “Nilai ekspor ini mencakup bisnis hardware dan mobile,” kata Mahendra dalam forum Nokia Developer Conference Indonesia ICT Award 2011 di Jakarta Convention Centre, Selasa, 5 Oktober 2011.

Dengan nilai ekspor yang mencapai US$ 6,5 miliar tersebut menempatkan Indonesia berada di urutan 29 negara pengekspor produk digital dan mobile. Yang tertinggi, kata Mahendra masih didominasi Cina, Amerika, Jerman, dan Jepang.

Pada saat yang sama, Indonesia juga mengimpor produk digital sebesar US$ 11 miliar. Meskipun Indonesia mengalami defisit, namun menurut Mahendra, itu menunjukkan pasar Indonesia yang besar. “Kalau nilai ekspor dan impornya digabung bisa mencapai total US$ 20 miliar. Itu artinya purchasing power produk digital besar,” katanya.

Menurut Mahendra, purchasing power atau kemampuan daya beli yang sekitar US$ 20 miliar tersebut baru sekitar 4-5 persen dari total produk domestik bruto. Seiring dengan kenaikan pendapatan per kapita menjadi US$ 5000 dari US$ 3000 saat ini, kemampuan daya beli produk digital tersebut bisa meningkat menjadi US$ 40 miliar.

Semestinya, menurut Mahendra, ekspor produk digital Indonesia bisa lebih dari yang dicapai saat ini. Dia membandingkan dengan target eskpor tahun ini yang sebesar US$ 200 miliar atau berada di urutan ke-20 negara pengeskpor terbesar. “Kalau yang ekspor fisik saja bisa masuk level Top 20, mestinya yang digital bisa lebih dari itu,” katanya.

Alasannya, kata, dia pertumbuhan eskpor produk nondigital selama ini masih terkendala dengan infrastruktur dan logistik, serta tidak meratanya sumber produksi. Meski terdapat banyak hambatan, Indonesia bisa masuk sebagai pengekspor 20 terbesar di dunia.

Karena itu, kecuali industri hardware dan broadband, industri digital tidak banyak mengalami hambatan seperti halnya di sektor di riil. “Mestinya tidak ada alasan industri virtual tidak bisa maju,” katanya.

Terlebih lagi dengan kombinasi populasi penduduk yang besar dan 60 persen masuk usia produktif. Hal itu potensial menumbuhkan para kreator di industri digital, berikut dengan pasarnya.

Saat ini industri informasi komunikasi dan teknologi (ICT) tumbuh rata-rata 15-17 persen per tahun. Ada empat sektor yang tumbuh di atas 10 persen, seperti layanan komputer 12,5 persen, dan periklanan 12 persen.

Mahendra mengakui kalangan perbankan belum memprioritaskan pembiayaan di sektor industri digital ini. “Ke depan bagaimana kita mendorong seluruh stakeholder untuk memajukan industri ini, baik di lokal, tapi juga global. Karena itu, akses ke keuangan menjadi penting,” ujarnya.

Menurut Guru Besar Universitas Bina Nusantara, Harjanto Prabowo, kreasi digital anak Indonesia tidak kalah dari negara-negara lain. Namun, tampaknya pasar belum sepenuhnya memahami industri digital ini. Dia memberi contoh sebuah film animasi yang berjudul Semut Wars yang dibuat oleh mahasiswa Binus. “Sebuah televisi mintanya US$ 1000 per seri, padahal buatnya saja habis Rp 200 juta,” katanya.

IQBAL MUHTAROM