Rupa-rupa Kreasi Mobile Game di INAICTA 2011
TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA) 2011 di Jakarta Convention Centre selama dua hari ini menampilkan pengembangan kreasi digital. Mulai dari e-Business, aplikasi, konten digital, dan mobile games. Salah satu yang menarik adalah bagaimana para kreator digital, yang hampir semuanya anak-anak muda, mengembangkan mobile game.
Dalam acara tersebut telah dipilih lima pengembang mobile game yang menjadi finalis. Mereka akan dipilih juri untuk menentukan siapa yang terbaik dalam ajang INAICTA 4-5 Oktober 2011 ini. Dua pengembang game yang masuk final adalah Mopomon dan GreenGuard.
Mopomon, mobile game ini bercerita tentang empat Mopomon yang masing-masing bernama Phelx, Eagetron, Flamebloid dan Windillo dalam melawan monster. Di setiap game, pemain yang disebut Mopomaster akan memilih satu dari keempat mopomon tadi.
Game yang diciptakan empat mahasiswa Universitas Bina Nusantara ini bisa dimainkan oleh dua orang secara bersamaan. Lewat teknologi bluetooth, pemain bisa mengajak temannya untuk bersama-sama memainkan game tersebut. “Selama ini mobile game hanya bisa dimainkan sendirian di rumah,” kata Satrio Hindarto, mahasiswa Desain Universitas Binus.
Karena itu, menurut Satrio, Mopomon ini sebaiknya dimainkan di luar rumah, di ruang-ruang publik seperti mall. Pasalnya, mereka sudah menempatkan monster-monster di beberapa titik di Jakarta. Sehingga, kalau Anda memainkan game ini di tempat yang berbeda, maka Anda menemukan monster yang berbeda pula. “Lewat Google Map, di beberapa titik, sudah kami taruh monster yang berbeda-beda,” kata Liem William Salim yang sudah lulus dari jurusan IT Universitas Binus.
Mopomon dijalankan pada sistem operasi Android. Meski sudah selesai, Satrio bersama tim akan terus mengembangkan game ini. “Rencananya baru 2012 akan tersedia di Android Market,” kata Satrio.
Mobile game yang lain adalah game GreenGuard yang diciptakan oleh empat mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada. Game yang dijalankan pada platform Windhows Phone 7 ini bercerita tentang bagaimana mencegah pembalakan hutan.
Di awal game, pemain akan mendirikan pos pemantauan. Kemudian akan muncul para pembalak yang harus ditangkap oleh polisi hutan yang dimainkan oleh pemain game. Poin akan bertambah bila berhasil menangkap para pembalak. “Semakin tinggi levelnya, pergerakan pembalaknya akan cepat,” kata salah seorang anggota tim, Irkham Huda.
Irkham mengatakan ide dan desain pembuatan mobile game GreenGuard ini dimulai pada Juli lalu. Mereka sendiri sudah menciptakan sejumlah game lain. Meskipun mereka masih berstatus mahasiswa, namun mereka membawa nama usaha sendiri dalam ajang INAICTA 2011 ini. “Ya, kami baru memulai,” kata Irkham.
IQBAL MUHTAROM





