SBY. ANTARA/Widodo S. Jusuf
Infografis
PKS Pertanyakan Seringnya SBY Rombak Kabinet
TEMPO.CO, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mempertanyakan seringnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merombak (reshuffle) kabinet. Sering munculnya wacana reshuffle, menurut Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera, Anis Matta, bisa mengganggu kinerja menteri dan membuka peluang orang-orang untuk melakukan manuver politik.
Selama lima tahun pertama pemerintahan SBY reshuffle sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi yang dilakukan SBY pun, kata Anis, terkenal paling ketat.
"Pemerintah (SBY) yang selektif memilih kabinetnya, pakai fit and proper test, pakai pakta integritas, tapi juga pemerintahan paling banyak di-reshuffle di tengah jalan," kata Anis seusai mengikuti peringatan HUT ke-66 TNI di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu 5 Oktober 2011.
Anis lantas mempertanyakan apakah reshuffle dilakukan karena ada yang salah saat melakukan seleksi. "Asumsinya, kalau seleksi ketat, hasilnya bagus, dong. Tapi kalau seleksi ketat diganti-ganti tiap waktu, orang bertanya ini yang salah di (proses) seleksi atau salah urus," ujarnya.
Seperti dikabarkan sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berencana merombak Kabinet Indonesia Bersatu II sebelum 20 Oktober 2011 mendatang, saat memasuki tahun ketiga pemerintahannya.
Anis malah mengusulkan reshuffle itu tidak perlu dilakukan. Pasalnya, target untuk meningkatkan kinerja kementerian bakal sulit tercapai jika dilakukan perombakan. Menteri yang menduduki jabatan baru harus beradaptasi lagi. Padahal semestinya setelah dua tahun bekerja, kata Anis, menteri bisa fokus untuk pencapaian kinerja.
EKO ARI WIBOWO





