TEMPO/Dinul Mubarok
Topik
Infografis
Apresiasi Euro Dorong Penguatan Rupiah
TEMPO.CO, Jakarta - Terapresiasinya mata uang Uni Eropa, euro, di atas level US$ 1,33 mampu meredakan kedigdayaan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang utama dunia lainnya. Hal itu membuat mata uang Asia termasuk rupiah mampu menguat.
Nilai tukar rupiah pada transaksi hari ini, Rabu, 5 Oktober 2011, ditutup pada level 8.918 per dolar AS, atau menguat 87 poin dari penutupan kemarin.
Pengamat pasar uang dari PT Harvest International Futures, Tonny Mariano, mengemukakan aksi ambil untung yang dilakukan para pelaku pasar mampu memicu penguatan mata uang euro, sehingga membuka ruang bagi mata uang rupiah dan mata uang Asia lainnya menguat kali ini.
“Adanya harapan bahwa Uni Eropa akan bekerja sama membantu perbankan kawasan yang dilanda krisis utang serta sinyal dari Gubernur bank sentral AS (The Fed) mampu meredakan kekhawatiran di pasar finansial global,” tutur Tonny.
Yunani yang berada di ambang kebangkrutan karena terancam tidak mampu membayar utang yang akan jatuh tempo bulan ini telah menekan euro hingga di bawah level US$ 1,32, sehingga memicu penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia.
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang rival utamanya sore ini hingga pukul 17:35 WIB turun 0,546 poin (0,69 persen) ke level 79,051.
Mata uang Asia sore ini ditutup menguat seiring dengan meredanya superior dolar AS terhadap mata uang utama dunia. Dolar Singapura menguat 0,15 persen, won Korea Selatan naik 0,33 persen, peso Filipina menguat 0,68 persen.
Ringgit Malaysia terapresiasi 0,37 persen, yuan Cina menguat 0,05 persen, serta dolar Taiwan menguat 0,16 persen.
VIVA B. KUSNANDAR





