TEMPO/Amston Probel
Topik
Infografis
Mahasiswa Depok Buka Posko Pengaduan SMS Penyedot Pulsa
TEMPO.CO, Depok - Sekumpulan mahasiswa dari Lingkar Studi Mahasiswa Jakarta cabang kampus Gunadarma, Depok, membuka posko pengaduan sms penyedot pulsa yang kini tengah marak. Rezky Agushadi, koordinator posko di kampus Gunadarma, mengatakan posko yang dia buka sejak pagi tadi sudah mendapatkan pengaduan dari sekitar 150 orang.
"Mereka kebanyakan mengadukan sms content dan NSP yang langsung menyedot pulsa. Mereka yang mengadu kebanyakan mahasiswa. Bahkan ada juga polisi," kata Rezky saat ditemui di posko pengaduan, kampus Gunadarma Kelapa Dua, Depok, Kamis, 6 Oktober 2011.
Menurut Rezky, para korban mengaku sudah mengadu ke provider, tapi tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari call center. "Para korban sangat sulit melakukan unreg," ujar dia.
Diakui Rezky, posko pengaduan yang juga dilakukan di Jakarta sampai saat ini sudah mendapatkan sekitar 1.000 pengaduan. Selanjutnya, kata Rezky, Lisuma akan melaporkan hasil aduan tersebut ke Polda Metro Jaya. "Kami buka posko sampai pukul 1 siang. Kalau di total jumlah yang mengadukan ke Lisuma, temasuk yang di Jakarta, sudah mencapai 1.000 orang," tutur dia.
Dikatakan Rezky, Lisuma menilai Kementerian Telekomunikasi telah gagal melindungi pengguna alat telekomunikasi. Mereka menuntut agar aparat mengusut tuntas pencurian pulsa tersebut. "Harus ditindak tegas operator nakal ini," ujar dia lagi.
Salah seorang korban sms penyedot pulsa, Riska, 24 tahun, mengaku kerap mendapatkan sms dari operator yang tidak jelas. "Saya pakai M3, saya selalu dapat sms dari nomor 933 dan pengirim yang namanya bonus, setelah mengisi pulsa yang 10 ribu. Pulsa saya selalu berkurang hingga Rp 3.000," kata dia. Riska berharap agar aparat menindak tegas operator yang nakal tersebut. "Saya sudah dirugikan," ujarnya.
ANGGA SUKMA WIJAYA





