REUTERS/Cheryl Ravelo
Topik
Boediono: ''Amunisi Kita Cukup Kuat Hadapi Krisis''
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Boediono percaya diri Indonesia mampu menghadapi krisis ekonomi. Cadangan devisa yang mencapai US$120 miliar atau dua kali lebih besar dibanding 2008 bisa menjadi pondasi untuk menghadapi krisis.
"Amunisi kita cukup kuat untuk menghadapi krisis," katanya ketika membuka Kongres Ikatan Alumni Instituti Sepuluh November (IKA-ITS) 2011 di Istana Wakil Presiden. Indonesia, kata Boediono, bisa melawan krisis dengan baik asal bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat
Menurut Boediono kemampuan untuk mengambil keputusan cepat dan tepat penting karena akan mempengaruhi kemampuan menghadapi krisis. Tanpa kemampuan ini, krisis itu bisa berimbas pada perekonomian.
Ia mencontohkan merebaknya krisis ekonomi di beberapa negara yang meluas ke negara lain, disebabkan oleh pengambilan keputusan yang tidak tepat dan terlambat. Sehingga persoalan ekonomi terlanjur bergulir menjadi besar.
Berbeda dengan krisis ekonomi 2008 di mana Amerika Serikat, menurut Wakil Presiden mengambil keputusan tepat pada wkatunya. Sehingga negara ini bisa segera pulih pada 2009. Tetapi saat ini kata dia terdapat deadlock.
"Ada ketidaksepakatan dalam pengambilan keputusan. Eropa juga demikian. Sekarang krisisnya bukan membahayakan satu dua negara tetapi zona Euro," terangnya.
Pengambilan keputusan yang tegas, menurut Boediono sampai saat ini belum terjadi untuk menghadapi krisis ekonomi di Eropa. Sehingga dampak krisis masih terasa dan dikuatirkan menyebar ke negara lain. Ia berharap Indonesia tidak akan berada pada situasi ini jika nanti dampak krisis mulai meluas ke Asia.
"Saya sampaikan ke semua instansi dalam situasi ini kita satu kapal, jangan sampai telat ambil keputusan," Boediono menegaskan. Salah caranya dengan menyelesaikan landasan hukum untuk penanganan krisis.
Misalnya menyelesaikan Rancangan Undang-undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Hal ini penting karena prosedur operasional yang diambil saat krisis harus memiliki landasan hukum sehingga tidak ada kegamangan.
Antisipasi lain adalah menyiapkan perekonomian agar lebih kuat dengan mengatur ekspor, impor, anggaran belanja dan lainnya. Jika terjadi penurunan kegiatan ekonomi, maka harus diimbangi dengan penataan anggaran belanja. "Struktur ekonomi kita lebih kuat. Tinggal kita sendiri sebagai nahkoda bagaimana menyetir kapal," katanya.
KARTIKA CANDRA





