TEMPO/Nickmatulhuda
Topik
Investor Asing Tak Akan Pergi dari Indonesia
TEMPO.CO, Jakarta- Guncangan perekonomian akibat krisis keuangan di Eropa dan Amerika Serikat diperkirakan masih terasa hingga beberapa bulan ke depan. Namun Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan, yakin ekonomi Indonesia tetap kuat.
Bahkan, menurut Gita, Indonesia masih menjadi incaran investor asing karena memiliki fundamental ekonomi yang kuat. “Kepercayaan investor asing terhadap Indonesia masih tinggi,” ujarnya, Kamis, 6 Oktober 2011.
Dia mengatakan, konsumer dalam negeri sangat besar. Indonesia termasuk konsumer terbesar yang mengkonsumsi produk domestik. Itu dibuktikan dengan jumlah Impor yang lebih sedikit dari ekspor.
Ketua Badan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam – LK) Nurhaidah, menyatakan, Indonesia adalah tempat aman bagi investor asing. Indikatornya bisa dilihat dari kepemilikan asing di pasar modal sebesar 57 persen dan lokal 43 persen.
Selain itu, total kepemilikan aset baik domestik maupun asing mencapai Rp 2.072 triliun pada September lalu. Jumlah ini meningkat dari periode sama tahun lalu Rp 1.827 triliun. Total nilai saham baik asing dan domestik mencapai juga meningkat menjadi Rp1.896 triliun pada bulan lalu dari periode sama tahun lalu Rp1.684 triliun.
Tapi, kata dia, investor sangat rentan terhadap kondisi politik dan perekonomian. Mereka bisa menarik investasinya, apabila kondisi global tidak kondusif. Investor akan mencari negara lain yang lebih menjanjikan.
Menurut Nurhaida, pasar Modal Indonesia harus terus mengembangkan potensi indeks agar Investor asing bertahan. "Semuanya harus berjalan seimbang.”
Kepala Kantor Perwakilan Citibank Indonesia, Tigor M. Siahaan, mengatakan, Citibank Group Indonesia menjadi prioritas investasi bersama 15 negara emerging market lainnya. Indonesia dipilih karena dianggap memiliki fundamental ekonominya yang kuat.
Indonesia, kata dia, memiliki produk domestik bruto (PDB) lebih dari US$ 3.000 per kapita dan kontribusi PDB sebesar US$ 700 miliar. Angka ini menurut Tigor merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Atas dasar itu, Indonesia ditetapkan sebagai 1 dari 16 negara prioritas investasi.
Citibank akan memanfaatkan daya beli masyarakat Indonesia yang kuat. "Karena kan pertumbuhan ekonomi ditopang konsumsi," kata Tigor.
FEBRIANA FIRDAUS | ILHAM





