Gedung Aneka Tambang Unit Geomin. Tempo/Arnold Simanjuntak
Topik
Antam Tak Terpengaruh Krisis Global
TEMPO.CO, Jakarta- Meski kondisi perekonomian global sedang bergejolak, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk meyakini hal tersebut tidak mempengaruhi bisnis perseroan.
Direktur Pengembangan Antam Tato Miraza, mengatakan, bisnis masih berjalan sesuai dengan rencana. Krisis global malah membuat penjualan, terutama emas, semakin meningkat. “Efek sampingnya banyak yang membeli emas dibandingkan sebelumnya,” kata Tato dalam jumpa pers di ajang Investor Summit, Kamis, 6 Oktober 2011.
Menurut dia, pembeli Antam telah terikat kontrak jangka panjang. Sehingga tidak terpengaruh oleh fluktuasi perekonomian global. Pembeli juga menyesuaikan jumlah pembelian dengan kebutuhannya.
Dari berbagai barang tambang, perusahaan hanya mewaspadai harga nikel karena volatilitas harganya sangat tinggi. “Rata-rata volatilitas nikel mencapai 40 persen, sehingga perseroan sulit menentukan harganya,” ujar dia.
Saat ini kisaran harga nikel masih di bawah US$ 9 ribu per ton. Suatu ketika harganya pernah anjlok ke US$ 3 ribu per ton dan melonjak lagi ke US$ 25 ribu per ton. “Kalau salah melakukan hedge (lindung nilai), bisa menyulitkan Antam,” ujarnya.
Antam sedang mengembangkan sejumlah proyek. Di antaranya pengolahan bijih bauksit menjadi Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah, Kalimantan, sebesar 1,2 juta metrik ton SGA per tahun.
Proyek dengan nilai US$ 1 miliar ini ditargetkan dapat beroperasi pada 2015. Selain itu, proyek pengolahan bijih nikel menjadi feronikel di Halmahera Timur kapasitas 27 ribu ton per tahun dengan nilai US$ 1,6 miliar.
Kemudian ada proyek Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan senilai US$ 450 juta, proyek Sponge Iron Kalimantan Selatan senilai US$ 150 juta, proyek nikel Mandiodo senilai US$ 350-400 juta, dan modernisasi serta optimalisasi feronikel Pomalaa senilai US$ 450-500 juta.
“Investasi ke depan sangat menentukan. Direksi ingin agar pemerintah beserta pemegang saham mengurangi dividen untuk mengembangkan usaha,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Antam meraih komitmen pinjaman sebesar US 1 miliar (Rp 8,4 triliun) untuk proyek tambang Feronikel di Halmahera Timur Maluku Utara. Sekretaris perusahaan Bimo Budi Satriyo mengatakan nilai pinjaman itu masih di bawah nilai proyek.
"Nilai tersebut termasuk kebutuhan pembangkit listrik sebesar US$ 600 juta dolar," katanya. Skema pendanaan berupa obligasi dan pinjaman.
Proyek ini merupakan salah satu proyek strategis perusahaan pelat merah ini untuk meningkatkan cadangan nikel. Untuk pasokan listrik Antam telah bekerja sama dengan PT PLN selama 30 tahun. PLN akan membangun pembangkit listrik berkapasitas 260 megawatt.
SUTJI DECILYA | EFRI





