Kemarau Panjang, Produksi Listrik PLTA Turun 60 Persen

Kemarau Panjang, Produksi Listrik PLTA Turun 60 Persen

TEMPO/Aris Andrianto

TEMPO.CO, Banjarnegara - Sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air di Jawa Tengah mengalami penurunan produksi hingga 60 persen. Hal itu disebabkan oleh menurunnya pasokan air dari sejumlah sungai yang memasok air ke pembangkit tersebut.

Seperti di PLTA Ketenger, Baturraden, Banyumas, yang memanfaatkan Sungai Banjaran yang berhulu di lereng Gunung Slamet. PLTA yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1935 itu saat ini hanya mengoperasikan dua turbin.

“Dari empat turbin yang ada, kini hanya dioperasikan dua turbin,” ujar Senior Supervisor PLTA Ketenger, Wardianto, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis 6 Oktober 2011.

Wardianto mengatakan kapasitas maksimal pembangkit tersebut mencapai 8 megawatt. Listrik dari pembangkit tersebut dialirkan ke jaringan listrik Jawa Madura Bali (Jamali).

Dia menambahkan, dua turbin yang sedang tidak beroperasi disebabkan oleh pasokan air Banjaran yang berkurang. Selain itu, satu turbin lainnya sedang menjalani perawatan tahunan. Saat musim penghujan keempat turbin tersebut akan beroperasi seluruhnya.

Wardianto berharap saat musim hujan datang seluruh turbin sudah bisa dimanfaatkan. PLTA Ketenger sendiri pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Jepang karena energi bersihnya. Berada di sebuah lembah di lereng Gunung Slamet membuat pembangkit ini tidak terlalu bermasalah dengan pasokan air.

Senior Supervisor PT Indonesia Power Unit Pembangkit Mrica Banjarnegara, Gunawan Sri Wibowo, mengatakan akibat musim kemarau pasokan listrik PLTA di Jawa Tengah menurun. “Pasokan listrik hanya sekitar 60-70 persen dengan total kapasitas 300 megawatt,” katanya.

Gunawan menambahkan, saat kemarau datang, pasokan listrik memang berkurang karena debit air sungai menurun. Selain sungai debitnya menurun, sejumlah waduk sengaja tidak dialirkan airnya agar pasokan air untuk pertanian bisa dihemat.

Selain itu, untuk menghemat air, turbin pembangkit juga tidak diputar selama 24 jam penuh. Turbin hanya dialirkan pada saat beban puncak, yakni sekitar pukul 17.00 hingga pukul 22.00.

Menurut dia, produksi listrik yang dihasilkan PLTA sangat tergantung pada jumlah volume air di waduk ataupun bendungan. “Sebagai contoh, PLTA Mrica yang menghasilkan 3 x 60 MW atau total 180 MW tidak seluruhnya beroperasi. Satu unit tidak beroperasi, sehingga produksinya hanya 120 MW,” katanya.

Meski pasokan listrik turun, kata dia, hal itu tidak menjadi masalah bagi masyarakat. Sebab, imbuhnya, PLN Unit Pengatur Beban di Ungaran telah memperoleh pasokan listrik dari pembangkit lainnya seperti PLTU. “Sehingga pelayanan listrik bagi konsumen tidak ada persoalan,” tutur dia.

Pernyataan Gunawan tidak sepenuhnya diamini oleh David Prima, warga Perumahan Puri Sogra Indah Desa Tambaksogra Sumbang Banyumas. Ia kesal dengan pemadaman yang sudah berlangsung selama dua hari terakhir. “Listrik mati usai magrib hingga malam hari,” katanya.

Menurutnya, PLN belum konsisten terkait pemadaman listrik di Pulau Jawa. Selain terjadi pemadaman, kata dia, listrik di rumahnya juga tidak stabil, sehingga bisa merusak peralatan elektroniknya.

ARIS ANDRIANTO


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X