foto

www.123rf.com

Polisi Turunkan Propam Selidiki Tewasnya Kader Golkar Sumenep

TEMPO.CO, Jakarta -Markas Besar Kepolisian memerintahkan pemeriksaan terhadap sejumlah personil kepolisian Polres Sumenep. Perintah itu dikeluarkan menyusul kasus kematian Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Golkar Kabupaten Sumenep, Ahmad Ridwan. "Propam sudah turun untuk memeriksa," ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, 7 Oktober 2011.

Ridwan tewas akibat peluru yang bersarang di kepalanya. Kabar kematiannya baru diketahui polisi saat jasadnya dibawa ke rumah sakit oleh sejumlah warga. Meski demikian, kata Anton, polisi hingga kini belum bisa memastikan apakah kematian Ridwan disebabkan oleh tembakan petugas. "Asal peluru sedang kami pelajari. Sementara ada dugaan ricochet (pantulan peluru)," kata Anton.

Anton menjelaskan, dugaan peluru nyasar dimungkinkan karena saat yang hampir bersamaan, polisi sempat mengeluarkan tembakan untuk menangkap pelaku pencurian motor. Periswa yang terjadi sekitar jam 20.15 WIB itu berawal ketika petugas mengetahui aksi pencurian motor yang dilakukan dua pria, tidak jauh dari taman bunga, Jl. Trunojoyo, Sumenep.

Awalnya pelaku sempat dikepung delapan petugas yang sedang patroli. Namun kedua pelaku berhasil melarikan diri setelah sebelumnya sempat melawan petugas. "Saat pengejaran, polisi mengeluarkan tembakan peringatan karena pelaku mengeluarkan clurit. Keduanya akhirnya ditembak. Dari hasil pemeriksaan, pelaku diketahui bernama Ahmad dan Agus," kata Anton.

Ahmad tewas akibat peluru yang menyasar dadanya. Adapun Agus berhasil dilumpuhkan setelah polisi mengarahkan timah panas dibagian kakinya. "Agus sempat dibawa ke rumah sakit untuk. keperluan pengobatan. Dan pada saat yang hampir bersamaan, sejumlah warga datang membawa jasad Ahmad Ridwan. Hasil otopsi menyimpulkan kematian Ridwan disebabkan peluru," kata Anton.

Guna keperluan penyelidikan, kata Anton, personil divisi propam telah mengamankan 10 senjata yang dibawa petugas saat itu. Senjata tersebut diperlukan untuk mempelajari muasal peluru yang menyebabkan kematian Ridwan. "Anggota kami sadar, jika benar mereka yang melakukan, mereka akan bertanggung jawab. Kami akan meminta maaf untuk itu semua," katanya.

RIKY FERDIANTO