Ledakan bom mesin ATM BRI dan BNI di Jalan Affandi, Gejayan, Sleman, Yogyakarta. TEMPO/Suryo Wibowo
Topik
Pembakar ATM BNI Diduga Kuat Kelompok Punk
TEMPO.CO, Yogyakarta - Kasatreskrim Polres Sleman Ajun Komisaris Danang Kuntadi memastikan pelaku pembakaran ATM BNI yang memunculkan ledakan keras pada Jumat dini hari, 7 Oktober 2011, adalah anggota salah satu kelompok punk. Dia tengah memeriksa tiga orang dan mengejar seseorang yang diduga pelaku utama. Tiga orang tersebut adalah Bili Agustan, Eat, dan Eat. "Semuanya mantan mahasiswa," ujar Danang.
Menurut Danang, Bili Agustan diciduk saat berada di sekitar lokasi ATM yang berada di Jalan Affandi, Gejayan, Depok, Sleman. Dia membawa tas ransel berisi sejumlah selebaran. "Gerak-geriknya mencurigakan," kata Danang.
Pemuda kelahiran 1981 berperawakan kerempeng serta berambut gondrong itu tinggal di Bandung. Saat ditangkap, mengenakan kaus merah dan celana pendek.
Dari pengakuan Bili, kata Dadang, mereka berjejaring dengan komunitas punk di Yogyakarta. Menurut Dion Irmawan, salah satu saksi mata peristiwa pembakaran ATM, Bili sempat memarkir motornya di Gang Alamanda, sekitar 25 meter dari lokasi kejadian. "Motornya tak bersurat saat kami periksa di lapangan," imbuh Danang.
Sementara Eat, kata Danang, adalah koordinator salah satu komunitas. Sebenarnya, Eat juga berada di lokasi saat kejadian. "Dia kabur dengan naik motor," terang Danang.
Eat, kata dia, ditangkap pihak kepolisian saat tengah tidur di kamar kos pacarnya di belakang Pasar Colombo, Jalan Kaliurang, Sleman. Pemuda kelahiran 1983 itu berperawakan tinggi besar. Rambutnya dipotong pendek dan kedua lengannya bertato.
Sementara pelaku pembakaran utama berinisial KL, kata Danang, masih buron. "Dia membakar dengan membawa bensin ke dalam ATM, sekarang sedang kami kejar dan pengawasan di rumah sakit diperketat," tambah Danang. Roni atau KL sempat lari ke Gang Alamanda. Dia lari pontang-panting.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Polres Sleman, kata Danang, motif mereka merusak fasilitas ATM adalah untuk mengeruk uang di dalamnya. Kejadian ini mirip di Bandung. "Motif mereka sama dengan gagasannya pada selebaran, pokoknya anti kemapanan," ujar Danang.
ADDI MAWAHIBUN IDHOM





