foto

Anak Krakatau. REUTERS/Documentation of Observation Post Anak Krakatau Volcano-Anton S. Tri Pambudi

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Menarik Wisatawan Asing  

TEMPO.CO, Lampung Selatan - Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan, menjadi daya tarik para turis mancanegara untuk datang ke Lampung.

Mereka ingin menyaksikan letusan dan semburan awan panas gunung berapi yang ada di tengah laut itu. “Itu pengalaman yang unik karena hanya bisa disaksikan di Lampung,” kata Steed Jones, turis asal Australia, Jumat, 7 Oktober 2011.

Steed membawa serta istri dan koleganya datang ke Lampung begitu membaca berita Internet. Pria berusia 37 tahun itu hendak tinggal di Pulau Sebesi selama lima hingga 10 hari untuk menyaksikan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tidak ketinggalan, dia membawa teleskop, kamera canggih, dan kamera video.

Para turis itu, biasanya akan menginap di sebuah cottage di Pulau Sebesi atau di rumah penduduk. Untuk menyaksikan aktivitas semburan awan panas, mereka akan mencari salah satu sudut daratan yang menjorok ke laut agar dan tidak terhalang pulau lain. “Ada tempat-tempat favorit bagi mereka. Warga biasanya akan memandu para turis itu,” kata Abdurrahman, salah seorang warga Pulau Sebesi.

Tidak hanya menyaksikan dari Pulau Sebesi, para turis juga bisa menyewa kapal milik penduduk yang berjarak sekitar setengah mil dari Gunung Anak Krakatau. Mereka akan berlayar mengelilingi gunung dan sebagian lagi mendarat ke kaki gunung agar bisa menyaksikan puncak gunung dari dekat. Untuk berlayar seperti itu, para turis harus merogoh uang sebesar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

Sejak aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat, setidaknya belasan turis mancanegara mengunjungi Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau. Mereka umumnya datang karena tertarik dengan kejadian langka. Gunung Krakatau meletus dahsyat pada tahun 1883 silam. Letusan itu terdengar hingga mancanegara dan membuat gelombang dahsyat hingga ke sejumlah benua.

Untuk menuju ke Pulau Sebesi, para turis harus berlayar selama satu hingga dua jam dari Pelabuhan Rakyat Canthi, Rajabasa, Lampung Selatan. Pemilik kapal penyeberangan akan meminta bayaran Rp 20 ribu per orang. Pelabuhan itu sebenarnya diperuntukkan bagi warga Pulau Sebesi dan Pesisir Pantai Kalianda.

Dari pulau yang dihuni sekitar 1200 kepala keluarga itu, pengunjung juga bisa merasakan getaran setiap terjadi kegempaan dari Gunung Anak Krakatau.

Tidak hanya itu, ikan bakar yang baru ditangkap dari laut juga bisa menjadi wisata kuliner yang mengasyikkan. “Banyak warga luar Lampung yang sengaja datang untuk memancing di perairan sekitar gunung dan pulau ini,” kata Abdurrahman yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan itu.

Namun, daya tarik itu tidak belum didukung pasokan listrik. Warga hanya mengandalkan sebuah generator berbahan bakar solar yang dikelola Pertamina. Aliran listrik hanya mengalir dari sore hingga tengah malam saja.

NUROCHMAN ARRAZIE