foto

M. Nasir ketika hadir di Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, (10/10). TEMPO/Seto Wardhana

M. Nasir Penuhi Panggilan KPK

TEMPO.CO, Jakarta - Muhammad Nasir memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin, 10 Oktober 2011 pagi. Saudara bekas Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin ini mendatangi kantor KPK pada pukul 07.30 WIB.

Nasir datang dengan mengenakan batik berlengan panjang berwarna cokelat dan celana kain hitam. Anggota Komisi Hukum DPR ini tak berkomentar sedikit pun ketika ditanya oleh wartawan.

Juru bicara KPK, Johan Budi S.P., mengatakan Nasir akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Nazaruddin. Pada hari ini, KPK juga akan memeriksa Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng.

Andi pun akan diperiksa sebagai saksi untuk Nazar. Namun hingga pukul 09.00 WIB tadi, dia belum juga datang.

Dalam kasus suap wisma atlet Palembang, KPK sudah menetapkan empat tersangka. Mereka adalah Nazaruddin, Direktur Pemasaran PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manulang, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam, dan Manajer Pemasaran rekanan proyek Muhammad El Idris.

Rosa telah divonis bersalah oleh pengadilan dengan hukuman dua tahun enam bulan penjara. Idris juga divonis dua tahun penjara. Adapun Wafid sedang menjalani persidangan. Sedangkan berkas Nazaruddin masih dirampungkan oleh penyidik KPK.

Kasus korupsi wisma atlet terbongkar ketika KPK mencokok Wafid, Idris, dan Rosa, pada 21 April lalu bersama uang suap sebesar Rp 3,2 miliar. Ketiganya, termasuk Nazar yang belakangan ditetapkan sebagai tersangka, sudah ditahan oleh KPK.

Pada persidangan Rosa dan Idris, staf keuangan Grup Permai, Yulianis, yang bersaksi di persidangan, membeberkan peran Nasir. Politikus Demokrat itu disebut sering kali ikut pertemuan di kantor Grup Permai bersama Nazar, Mujahidin Nur Hasyim, dan Rosa. Pertemuan yang membahas proyek wisma atlet itu digelar tiga kali dalam sepekan.

Dalam persidangan, Yulianis membenarkan jika ada juga uang dari Grup Permai yang mengalir kepada dua anggota DPR, yaitu Angelina Sondakh dan I Wayan Koster. Rosa juga membenarkannya, bahkan menyebut ada lagi yang menerima selain kedua orang itu. Angie dan Koster yang pernah dikonfirmasi membantahnya.

RUSMAN PARAQBUEQ