foto

AP/dapd, Steffi Loos

Krisis, Pasar Eropa dan Amerika Tengah Lesu

TEMPO.CO, Jakarta -Direktur Industri Tekstil dan Aneka Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Budi Irmawan mengatakan bahwa saat ini kondisi pasar di Eropa dan Amerika sedang lesu. "Pasarnya berdarah-darah," katanya, Senin 10 Oktober 2010.

Kondisi tersebut merupakan dampak dari krisis yang melada kedua wilayah itu menyebabkan masyarakat mengurangi konsumsi belanja mereka. Sehingga besar kemungkinan akan berpengaruh pada ekspor Indonesia ke sana terutama tahun depan. "Untuk tahun ini mungkin kita masih bisa mencapai target, tidak ada pengurangan order karena sudah ada kontrak sejak awal," katanya.

Namun untuk tahun depan, kemungkinan besar order akan berkurang. "Beberapa mungkin akan melakukan reevaluasi order yang akan dikontrak tahun 2012. Misalnya, jika tadinya membeli 100 pasang kemungkinan nanti hanya 50 pasang jika kondisi tidak membaik," katanya.

Saat ini pemerintah menargetkan ekspor alas kaki mencapai US$ 3,5 miliar. Sedangkan porsi ekspor ke Amerika mencapai 40 persen sedangkan porsi ekspor ke Eropa mencapai 30 persen dari total ekspor alas kaki Indonesia.

Menurut Budi, saat ini ekspor alas kaki sudah mulai melambat. "Terutama sepatu kulit non sport shoes karena harganya memang lebih mahal sehingga lebih cepat terkena dampak lesunya pasar," katanya.

Sedangkan untuk sepatu berbahan selain kulit dengan harga lebih rendah belum terasa mengalami pelambatan. "Pasarnya juga lebih ke lifestyle sehingga banyak alternatif konsumsinya," katanya. Sepatu kulit sendiri memiliki porsi 15 persen dari total ekspor alas kaki Indonesia.

Kondisi serupa diprediksi juga akan terjadi pada ekspor tekstil Indonesia yang juga menjadikan Amerika dan Eropa sebagai pasar ekspor utama. Porsi ekspor tekstil Indonesia ke Amerika mencapai 36 persen dari total ekspor, sendangkan ke Eropa mencapai 18 persen.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, lanjutnya, pemerintah akan menggenjot penjualan di pasar dalam negeri. "Setidaknya sekarang daya beli pasar domestik masih kuat," katanya.

Sementara itu Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G. Ismy mengatakan besar kemungkinan ekspor tekstil Indonesia akan mengalami penurunan tahun depan. "Kosekuensi dari dampak krisis," katanya.

Untuk mengurangi dampak melemahnya ekspor terhadap industri dalam negeri, lanjutnya, penguatan pasar domestik adalah langkah terbaik yang mesti segera dilakukan. "Pangsa pasar domestik kita besar, untuk tekstil nilainya mencapai RP 83 triliun per tahun," katanya. Namun porsi tersebut tidak sepenuhnya bisa dinikmati industri dalam negeri karena 40 persen pasar telah dikuasi produk impor. "Industri dalam negeri hanya menguasai 60 persen pasar dalam negeri."

AGUNG SEDAYU