Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) Pertamina area Gundih, Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. ANTARA/R. Rekotomo
Kontrak Ekspor Gas Akan Dikaji Ulang
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita Herawati Legowo akan mengkaji ulang semua kontrak. Termasuk dengan ekspor ke Singapura. Ekspor ke Singapura, kata Evita, saat ini tak sampai 1.000 MMSCFD (juta kaki kubik per hari).
Pihaknya kini sedang menyiapkan review kontrak ekspor gas ke Singapura. “Timnya sudah ada, kami siapkan, kan harus hati-hati,” ujarnya usai rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR, Senin, 10 Oktober 2011.
Dari kontrak yang sudah ada jumlahnya bisa dikurangi. “Kalau memungkinkan iya (dikurangi),” kata dia. Tapi Evita belum bisa bilang jumlahnya, karena soal jumlah ini sensitif. “Tapi kami review semuanya,” ujarnya.
Walaupun akan mengkaji ulang semua kontrak ekspor gas, Evita tak menyebut targetnya. “Gak (ada targetnya). Pokoknya harus ada tambahan buat dalam negeri. Itu targetnya,” kata dia. Evita menyatakan, di beberapa pembangkit sudah bisa menyerap tambahan gas. “Di Muara Karang bisa bertambah. Ini untuk Pulau Jawa,” kata dia.
Sedangkan untuk dialirkan ke Sumatera tergantung kesiapan infrastruktur dan pembangkit. Menurut dia, infrastruktur dan pembangkit ini harus siap semua. Untuk renegosiasi gas dari ladang Tangguh di Papua, saat ini belum selesai. Tapi untuk pengalihan ke unit penampungan regasifikasi terapung (FSRU) Belawan sudah selesai. Harganya mengacu kepada FSRU Nusantara Regas yang menyuplai Jawa Barat. “Harganya sekitar US $ 10 per MMBTU,” kata dia.
Gas itu rencananya dialihkan buat PLN. Awalnya gas itu diserap oleh Sempra (Amerika Serikat-Meksiko) dalam kontrak jangka panjang. Dalam kontraknya, kata Evita ada klausul,bahwa setengah gas jatah Sempra bisa diserap pihak lain dari dalam negeri. ”Bukan karena Sempra tak kuat menyerap, tapi kontraknya memungkinkan,” kata dia.
Lapangan gas Tangguh memiliki kapasitas produksi 7,6 juta ton per tahun. Gas itu dijual kepada Cina, Korea Selatan dan Sempra.
NUR ROCHMI





