Seorang pemulung mengais sampah plastik pada sampah-sampah yang menumpuk di sekitar pintu air Tanah Baru, Depok, Jawa Barat, Minggu (11/11). TEMPO/ Gunawan Wicaksono
Topik
Ayo, Kurangi Penggunaan Plastik
TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim berharap penggunaan plastik di pusat perbelanjaan bisa dikurangi. Potensinya yang terus bertambah mesti diikuti pengelolaan yang baik. "Harus coba diganti dengan bahan yang bisa didaur ulang," ujarnya selepas seminar di Hotel Sahid Jakarta, Senin, 10 Oktober 2011.
Menurutnya, potensi sampah plastik yang begitu besar bisa menjadi ancaman serius bagi lingkungan bila tidak dikelola dengan baik. "Sampah itu bisa menjadi sumber pendapatan bila dikelola dengan baik,"ujarnya.
Untuk menekan potensi plastik yang terus bertambah, Emil berharap para pemilik dan pengelola perbelanjaan seperti supermarket yang ada di Jakarta harus berani untuk mengubah kemasan plastik ke kemasan yang menggunakan bahan yang mudah didaur ulang. "Saya minta Bu Tati (Ketua PKK DKI) meminta pengusaha untuk mengganti plastik dengan bahan lain," ujarnya.
Ia menilai, sampah plastik masih menjadi penyumbang terbesar dari sampah domestik yang dihasilkan. Namun, pengelolaannya belum maksimal. "Harus ada terobosan untuk mengolah sampah plastik ini," pinta dia.
Tatie Fauzi Bowo, Ketua Tim PKK Provinsi Jakarta, mengakui bila sampah plastik masih menjadi penyumbang sampah terbesar dari DKI Jakarta. Dari 6500 ton sampah perhari yang dihasilkan, hampir separuhnya berasal dari plastik.
Melalui program HATINYA PKK atau Halaman Asri Teratur Indah dan Nyaman, pemerintah DKI melaksanakan tiga kegiatan turunan dari program itu yakni kebersihan (clean), penghijauan (green) dan pertumbuhan (growth). "Program ini memberikan keterampilan membuat kompos dan barang kerajinan,"ujar Tatie.
DKI Jakarta memiliki kekuatan yang cukup besar mengelola sampah dengan baik. Dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di Indonesia, warga Jakarta bisa dikatakan relatif lebih sehat, terdidik, dan sejahtera dibanding dengan warga daerah lainnya di negeri ini. "Hal itu bisa terwujud karena adanya sinergitas dari pemerintah, swasta dan warga," ujarnya.
JAYADI SUPRIADIN





