TEMPO/Budi Purwanto
Topik
Dua Bocah Meninggal Dunia Akibat Flu Burung
TEMPO.CO, Denpasar - Wayan Aldiawan, 10 tahun, dan Nengah Rika Ani, 5 tahun, asal Desa Tembuku, Bangli, Bali, meninggal dunia diduga akibat flu burung, Senin dini hari, 10 Oktober 2011. Jenazah kakak-adik ini masih disimpan di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah.
Kepala Dinas Kesehatan Bali Nyoman Suteja menyatakan pihaknya menerjunkan tim ke lapangan. “Memang ada riwayat bersentuhan dengan ayam yang mati,” kata dia. Ketika sudah menunjukkan gejala penurunan kondisi kesehatan, pihak keluarga tidak langsung membawanya ke rumah sakit dan malah menyembunyikan. “Ini yang membuat kondisinya makin parah,” tuturnya.
Yang agak membingungkan, ayam yang mati di rumah kedua anak bersaudara itu setelah dites ternyata hasilnya negatif. Karena itu, pihaknya meminta warga meningkatkan kewaspadaan untuk segera melaporkan ayam yang mati secara tidak wajar
Sekretaris Tim Penanggulangan Penyakit Flu H5N1 RS Sanglah I Gusti Bagus Ken Wirasandi mengatakan saat masuk rumah rumah sakit pada Jumat, 7 Oktober 2011, kesadaran kedua pasien sudah menurun dan menggunakan alat bantu pernapasan. Kasus kali ini merupakan kasus kedua setelah flu burung pernah menyerang Bali pada 2007 lalu. Saat itu ada 46 pasien suspect flu burung, 2 pasien di antaranya akhirnya meninggal dunia dan dinyatakan positif H5N1.
Untuk penanganan flu burung, Bali saat ini masih memiliki stok tami flu sekitar 3.000 tablet, 2.000 tablet di antaranya tersimpan di RS Sanglah. Namun dia mengingatkan tamiflu hanya optimal dalam 24 jam pertama setelah seseorang dicurigai flu burung. Karena itu begitu ada gejala mengarah ke flu burung, warga harus cepat melapor.
Sampel swep tenggorokan dan darah kedua korban telah dikirim ke Balitbang Departemen Kesehatan dan telah dikonfirmasi positif H5N1. Hal itu diperkuat oleh hasil laboratorium RS Sanglah dan laboratorium biomolekuler Universitas Udayana. Pemeriksaan laboratorium itu berupa PCR (polymerase chain reaction) dengan mengambil swep tenggorokan. Pemeriksaan juga meliputi serial foto terhadap paru-paru kedua korban yang dilakukan setiap enam jam sekali dan menunjukkan progresivitas yang makin memburuk dan positif terinfeksi virus H5N1.
ROFIQI HASAN





