KLB Difteri, Jawa Timur Gelar Imunisasi Serentak  

TEMPO.CO, Surabaya -- Setelah ditetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit difteri sejak Jumat, 7 Oktober 2011 pekan lalu, mulai Senin, 10 Oktober 2011, pemerintah menggelar imunisasi secara serentak di seluruh puskesmas di Jawa Timur.

Imunisasi dilakukan kepada seluruh anak di bawah usia 10 tahun, baik yang terkena difteri maupun yang belum. "Pokoknya seluruh anak di bawah 10 tahun yang belum pernah mendapatkan imunisasi difteri kita suntik mulai hari ini," kata Gubernur Soekarwo, Senin, 10 Oktober 2011.

Imunisasi secara serentak, kata dia, dilakukan karena sejak 10 bulan terakhir, setidaknya telah terdapat 11 anak di bawah 10 tahun yang meninggal akibat serangan virus difteri. "Kemarin informasinya ada 328 yang mati, ternyata yang benar 11 yang mati, tapi akan kita cek dulu," kata Soekarwo.

Meski hanya 11 yang mati, tambah dia, namun penetapan status KLB tetap dilakukan mengingat kasus ini telah tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur. Untuk imunisasi serentak ini, Jawa Timur telah menggelontorkan dana Rp 8 miliar.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Mudjib Afan mengatakan total anak yang terserang difteri telah mencapai 333 orang. Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya 303 anak. "Jumlah yang mati tahun lalu mencapai 21 anak, tapi tahun ini sudah berkurang hanya 11 anak," kata Mudjib.

Untuk menangani kasus difteri ini, pihaknya telah menyediakan sebanyak 40 ribu vaksin dan telah disalurkan kepada seluruh puskesmas dan posyandu yang ada di Jawa Timur. Kasus difteri, kata Afan telah menjangkiti 34 kota/kabupaten, dan hanya empat daerah yang belum terjangkit, yaitu Ngawi, Pacitan, Trenggalek, dan Magetan.

Kasus difteri yang paling parah menyerang Surabaya, Bangkalan, dan Mojokerto. Selain memberikan imunisasi gratis, pemerintah juga mulai mensosialisasikan cara pencegahan dini difteri.

Menurut Afan, penyakit menular ini sebenarnya bisa ditanggulangi jika orang tua mengetahui gejala penyakit tersebut, di antaranya adalah panas tinggi, batuk disertai pilek, pembengkakan tenggorokan, dan terdapat selaput putih di tenggorokan. "Jika anak sekitar kelas dua hingga lima SD mengalami gejala ini harap segera dibawa ke puskesmas atau dokter," kata Afan.


FATKHURROHMAN TAUFIQ