foto

Komisaris Independen Solusi Tunas Pratama MS. Sembiring (kiri), Dirut PT. Ciptadana Securities Ferry Tanya (tengah) dan Dirut PT. Solusi Tunas Pratama TBK Nobel Tanihaha melihat layar pergerakan saham di gedung, Bursa Efek Jakarta, Jakarta. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

Solusi Tunas Incar Akuisisi 4 Perusahaan

TEMPO.CO, Jakarta - PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) menargetkan dapat mengakuisisi empat perusahaan penunjang telekomunikasi hingga tahun depan. Ini seiring dengan bertambahnya dana perseroan dari penawaran perdana saham publik (IPO) yang dilakukan pada tahun ini.

"Akuisisi ini dilakukan mulai tahun ini hingga 2012," ujar Juliawati Gunawan, Direktur Keuangan Solusi Tunas Pratama, usai pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia, Selasa 11 Oktober 2011.

Dia mengatakan setidaknya pada tahun ini dapat mengakuisisi satu hingga dua perusahaan. Meski tak menyebut dua perusahaan itu, menurut Juliawati, setidaknya perusahaan yang dituju dapat mendukung bisnis inti perusahaan dalam bidang penunjang telekomunikasi.

"Mekanismenya nanti bisa ada yang kami akuisisi perusahaannya, tapi ada juga yang hanya menaranya," kata dia.

Perusahaan penunjang telekomunikasi ini telah melantai di Bursa Efek Indonesia hari ini dengan jumlah saham yang dilempar ke publik sebanyak 100 juta lembar saham dengan harga saham perdana Rp 3.400 per saham.

Dana hasil penawaran saham perdana itu mencapai Rp 340 miliar. Rencananya perusahaan akan menggunakan 50 persen dana IPO untuk akuisisi, 35 persen untuk investasi pembangunan menara, dan sisanya untuk modal kerja.

Dari fasilitas pinjaman yang didapat dari sempat bank yakni RBS, Standard Chartered Bank, Bank CIMB Niaga, dan Bank Mandiri yang mencapai Rp 1,08 triliun, perusahaan belum mencairkan sebanyak Rp 360 miliar. Pinjaman yang telah dicairkan sebanyak Rp 720 miliar telah digunakan perusahaan untuk ekspansi dan pembiayaan kembali utang.

Juliawati menjelaskan perusahaan akan kembali menambah 100 menara telekomunikasi pada tahun ini. Sementara sampai saat ini perusahaan telah memiliki 1.121 menara yang menyebar di seluruh Indonesia.

Untuk pembangunan menara itu, kata Juliawati, dibutuhkan dana sekitar Rp 100 miliar. Dana di antaranya akan diperoleh dari kas internal dan pinjaman bank.

Meski telah menargetkan pembangunan hingga akhir tahun, Juliawati mengatakan pembangunan tergantung dari proses yang terjadi di lapangan. "Kalau lahan dan perizinan sudah bisa diperoleh, setidaknya kami bisa langsung membangun menara," tutur dia.

Direktur Utama Solusi Tunas, Nobel Tanihaha, mengatakan perusahaan tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan perusahaan penunjang telekomunikasi lainnya.

Untuk itu perusahaan berencana mengakuisisi perusahaan atau menara telekomunikasi yang dimiliki suatu perusahaan. "Namun saya tidak ingin buka dulu perusahaan mana saja," kata Nobel. Perusahaan menargetkan dapat membukukan pendapatan Rp 300 miliar hingga akhir tahun. "Untuk EBITDA setidaknya 85 persen dari total pendapatan," kata dia.

SUTJI DECILYA