foto

TEMPO/Gunawan Wicaksono

PT Sang Hyang Seri Targetkan Kenaikan Produksi  

TEMPO.CO, Jakarta - PT Sang Hyang Seri (Persero) menargetkan jumlah produksi benih padi tahun ini mencapai 105 ribu ton, yang terdiri dari benih padi hibrida sebesar 5.000 ton dan non-hibrida sebesar 100 ribu ton. Perusahaan pelat merah ini mampu memproduksi benih untuk mencukupi kebutuhan benih dalam negeri sebesar 30 persen dari total kebutuhan benih nasional. Adapun kebutuhan benih tahun ini sebesar 331.467 ton.

Direktur Utama PT Sang Hyang Seri Eddy Boediono mengatakan hingga September ini penjualan benih padi perusahaan baru mencapai 70 persen dari target. Ia berharap jumlah penyerapan benih meningkat seiring dengan masuknya musim tanam padi Oktober hingga Desember mendatang.

Ditambah dengan dorongan penggunaan benih unggul melalui program gerakan peningkatan produksi berbasis korporasi dan bantuan langsung benih unggul, ia yakin produksi bisa sesuai dengan target. “Musim tanam Oktober dan betul-betul hujan, sehingga penyerapan benih bisa lebih cepat,” kata Eddy, Selasa, 11 Oktober 2011.

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Bambang Budhianto mengatakan tahun ini pemerintah menargetkan melakukan penanaman padi menggunakan benih hibrida di atas 1 juta hektare lahan sawah. Namun Bambang menyatakan realisasinya tidak akan sebesar itu, atau hanya seluas 537 hektare lahan sawah dengan benih sebanyak 13.425 ton.

Eddy kembali menambahkan, selain padi, perusahaan juga menghasilkan benih kedelai sebesar 10 ribu ton dan jagung sebesar 20 ribu ton. Perusahaan ini mempunyai 12 jenis varietas unggulan, seperti Ciherang dan Situ Bagendit. Rata-rata produktivitas ke-12 jenis varietas tersebut berkisar 5-6 ton per hektare. Penjualan benih padi difokuskan pada daerah sentra produksi beras seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Eddy melihat prospek industri benih, terutama hibrida, pada masa mendatang cukup baik. Terlihat makin banyak perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang masuk ke industri benih hibrida. “Tahun ini pertumbuhan benih meningkat 5 persen dibandingkan tahun lalu. Ini karena faktor sosialisasi penggunaan benih unggul dan kondisi iklim yang relatif mendukung,” ujar dia.

Sementara itu Ketua Asosiasi Pengusaha Benih Indonesia Elda Adiningrat mengakui turunnya permintaan benih di dalam negeri seperti benih padi dan jagung. Penyebabnya adalah anomali iklim yang membuat petani lebih memilih berhati-hati melakukan penanaman. Saat ini rata-rata harga benih padi sekitar Rp 6.000-7.000 per kilogram, benih jagung hibrida Rp 35-40 ribu per kilogram, dan benih kedelai Rp 10-15 ribu per kilogram.

ROSALINA