foto

Thein Sein. TEMPO/Aditia Noviansyah

Myanmar Bebaskan Ribuan Tahanan

TEMPO.CO, NEW DELHI - Presiden Myanmar Thein Sein, Rabu 12 Oktober 2011, dijadwalkan akan membebaskan 6.359 tahanan, termasuk tahanan politik, dengan pemberian pengampunan (amnesti). Namun pemerintah tidak menyebutkan jumlah pasti tahanan politik yang akan menerima amnesti.



Menurut kantor kepresidenan untuk urusan amnesti, tahanan yang dibebaskan itu meliputi tahanan lanjut usia, menderita sakit, dan cacat. Sejumlah nama tahanan politik berpengaruh juga dibebaskan, seperti komedian Zarganar, Jenderal Say Htin berusia 75 tahun (penggagas Angkatan Bersenjata Shan yang baru-baru ini dihukum 106 tahun penjara di Penjara Sittwe), dan Htay Kywe, pemimpin demonstrasi mahasiswa 88.



Pemberian amnesti didasarkan pada konstitusi Myanmar yang baru diamendemen pada pasal 204 (b) yang menyatakan "Presiden berwenang memberikan amnesti sesuai dengan rekomendasi dari Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional."



Partai oposisi Myanmar, Kekuatan Demokrasi Nasional (NDF), pada September lalu mengatakan amnesti baru akan efektif jika tahanan politik dibebaskan. "Sekarang kita berusaha melakukan rekonsiliasi nasional. Jika tahanan politik tidak termasuk dalam amnesti, itu tidak akan efektif. Pihak berwenang mengetahui itu. Amnesti tertunda karena mereka sepertinya mempertimbangkan apakah ini akan dapat memicu kembali pemberontakan," kata Ketua NDF, Khin Maung Swe, yang juga mantan tahanan politik.



Menurut Asosiasi Bantuan bagi Tahanan Politik Burma (AAPP) di Thailand, jumlah tahanan politik sebanyak 1.998 orang. Mereka dipenjarakan di 42 penjara dan 109 kamp kerja yang tersebar di berbagai tempat di Myanmar.



Dalam surat terbuka Komisi Hak Asasi Manusia Myanmar kemarin, Ketua Komisi Win Mra mendesak pemerintah agar membebaskan semua tahanan yang tidak mengancam stabilitas negara dan perdamaian. Pembebasan ini sebagai refleksi dari kemurahan hati.



| MIZZIMA | IRRAWADDY | AP | MARIA RITA