TEMPO/Fahmi Ali
Topik
Ibu-ibu di Sidoarjo Gemari Susuk
TEMPO.CO, Sidoarjo - Akseptor Keluarga Berencana (KB) di Sidoarjo menggemari program KB implan atau susuk. Total sekitar 75 persen akseptor KB menggunakan metode tersebut untuk mencegah kehamilan.
Pengguna KB susuk lebih banyak dibandingkan metode pil KB, suntik, kondom, maupun vasektomi. "Dipilih karena mudah dan aman," kata Kepala Bidang Keluarga Berencana Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten (BPMPKB) Sidoarjo, Heni Kristiani, Rabu, 12 Oktober 2011.
Implan yang dipasang di lengan kiri ini dianggap praktis dan memiliki risiko terendah dibandingkan alat kontrasepsi lain. "Ibu-ibu paling suka KB susuk," ujarnya.
Total akseptor KB di Sidoarjo mencapai 3.503 jiwa. Apalagi, katanya, pemasangan dilakukan secara tertutup dan masa pemakaian lama. Berbeda dengan suntik yang dilakukan setiap bulan atau pil KB yang harus dikonsumsi setiap hari.
Menurutnya, implan juga memiliki efek samping dan mempengaruhi hormon tubuh akseptor. Antara lain, semakin lama masa pemakaian, maka masa menstruasi akseptor juga semakin panjang. “Hormon pencegah kehamilan ini, efeknya telat datang bulan," katanya.
Sedangkan akseptor pria dengan metode vasektomi jauh lebih rendah lantaran masyarakat menganggap operasi vasektomi berpengaruh terhadap hubungan seksual dengan pasangannya. Padahal, pascaoperasi tak ada efek yang berarti terhadap para akseptor.
EKO WIDIANTO





