Seorang pialang mengamati papan indikator saham di Bursa Efek Tokyo (9/3). Nilai saham di Nikkei jatuh 57,91 poin atau 0,81 persen pada penutupan perdagangan pagi. Foto: AP/Shuji Kajiyama
Topik
Infografis
Berita Positif Eropa Terus Angkat Bursa Asia
TEMPO.CO, Kuala Lumpur — Bursa saham Asia untuk keenam kalinya menguat karena adanya spekulasi bahwa para pembuat kebijakan di Eropa, Amerika serikta (AS), serta Cina akan melakukan pencegahan agar ekonomi global tidak tenggelam ke dalam resesi. Hal ini membuat harga obligasi (treasury) AS jatuh karena investor kembali memburu aset–aset yang berisiko. Sebagian harga komoditas juga turun.
Indeks bursa Asia Pasifik MSCI melonjak 1,1 persen pada pukul 11.55 siang ini waktu Tokyo, sedangkan indeks S&P Futures naik tipis, sedangkan euro bergerak tipis ke US$ 1,3779 mendekati level terkuatnya dalam empat pekan. Adapun minyak di bursa komoditas New York semalam ditutup turun 0,8 pesen dan tembaga jatuh 1,7 persen.
Presiden Komisi Eropa, Jose Barroso, kemarin menyerukan upaya bantuan terhadap perbankan yang mengalami kesulitan akibat krisis utang serta pembayaran pinjaman keenam bagi Yunani dan pembentukan dana penyelamatan permanen. The Fed beberapa bulan lalu juga ingin tetap mempertahankan pembelian aset sebagai pilihan untuk mendukung perekonomian. Pemerintah Cina juga meluncurkan kebijakan untuk membantu perusahaan kecil, termasuk keringanan pajak dan akses yang lebih mudah untuk mendapatkan pinjaman.
“Risk appetite terus meningkat karena berita positif dari Eropa dan AS terus mengalir,” kata Syahful Zamri, Direktur Investasi, Riset dan Penasehat Kenanga Investors Bhd di Kuala Mumpur.
Indeks MSCI Asia Pasifik telah menguat cukup panjang sejak 1 September lalu. Indeks Nikkei 225 menguat 1,2 persen dan indeks bursa Australia juga naik 0,5 persen. Indeks Kospi menguat 1,1 persen setelah Kongres AS telah mengesahkan perjanjian perdagangan bebas dengan Korea Selatan. Hyunda Mobis, perusahaan pembuat bagian mobil Korea ini, langsung naik 2,5 persen karena spekulasi akan mendapat keuntungan atas perjanjian perdagangan tersebut.
Dari catatan rapat Gubernur bank sentral AS (Fed Minute) bulan lalu, menunjukkan bahwa pejabat pembuat kebijakan melihat ketidakpastian akan pertumbuhan ekonomi AS. Sebagian besar peserta rapat memberikan informasi tambahan dalam pengambilan keputusan terhadap tujuan bank sentral dan tetap mempertahankan suku bunga mendekati nol untuk jangka waktu yang lebih lama. Hal ini membuat harga obligasi AS turun dan imbal hasilnya menguat menjadi 2,2 persen.
Sekretaris Menteri Keuangan AS untuk hubungan internasional, Lael Brainard, kemarin mengatakan, pada pertemuan G20 di Paris akhir pekan ini, Pemerintah AS akan mengintensifkan seruan untuk melakukan tindakan yang lebih tegas dari Uni Eropa guna mengatasi krisis utang kawasan.
BLOOMBERG/ VIVA B. KUSNANDAR





