TEMPO/Imam Sukamto
Topik
Megawati Ingatkan Bahaya Krisis
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarno Putri mewanti-wanti krisis keuangan global yang saat ini terjadi. Menurut dia, kondisi tersebut benar-benar sudah di depan mata.
"Saya tidak menakut-nakuti, tapi ini adalah kenyataan yang mau tidak mau harus dihadapi," kata Megawati dalam sambutannya pada seminar "Krisis Keuangan dan Pangan, Peluang atau Ancaman" di gedung DPR RI, siang ini.
Presiden kelima Indonesia itu mengatakan krisis keuangan itu menjadi perbincangan yang sangat ramai. Namun sangat kurang yang mencoba mencari penyelesaiannya.
"Efek dari kondisi ini membawa dampak besar bagi seluruh masyarakat Indonesia," kata Megawati.
Menurut dia, ekonomi dipandang pada sektor makro dan mikro. Namun, menurut dia, keluh kesah yang sering ditemukan berada di sektor mikro.
"Contohnya tukang bakso, pembuat tempe sering sekali mengeluh setiap kali ke daerah. Mereka sangat merasakan kondisi itu," kata dia.
Megawati mengatakan saat menjabat wakil presiden mendampingi Abdurrahman Wahid, ia berusaha membangkitkan ekonomi mikro. Alasannya, hal tersebut bersentuhan langsung dengan rakyat kecil.
"Saat itu, saya bangkitkan usaha mikro karena rakyat kecil tidak bersentuhan dengan dolar," kata dia.
Hasilnya, saat menjabat presiden dalam 2,5 tahun, dia klaim kondisi ekonomi bisa membaik. "Tapi saat ini, rakyat berjalan dengan pikiran dan caranya sendiri untuk membangun kehidupan," tutur Megawati.
Ketua DPP PDIP Puan Maharani mengimbuhkan, krisis keuangan yang terjadi saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. "Pertanyaannya, sediakah dan apa kesiapan kita menghadapi krisis tersebut?" tutur Puan.
Menurut dia, untuk menyambut krisis keuangan, dia menyarankan agar dilakukan dengan komunikasi yang positif. Hal itu penting dilakukan karena menyangkut soal keuangan agar tidak menimbulkan kepanikan. "Seminar ini bukan menakut-nakuti, tapi menjadi hal yang harus diungkap kebenarannya," kata Ketua Fraksi PDIP di DPR RI itu.
Dia meminta pemerintah jangan menutup-nutupi kondisi krisis keuangan. Harus ada komitmen dan solusi atas kenyataan yang terjadi di lapangan. "Pemimpin-pemimpin dunia setiap saat bertemu untuk membicarakan hal itu," kata Puan.
Puan mencontohkan, Indonesia tidak bisa lagi berharap banyak pada Thailand dan Vietnam yang juga terancam krisis. Indonesia dinilai lebih menyukai kebijakan impor ketimbang memanfaatkan produk dalam negeri.
"Apa yang harus dilakukan jika Vietnam dan Thailand menghentikan ekspor berasnya ke Indonesia?" kata Puan.
Dia meminta pemerintah berpihak pada ekonomi sektor riil dalam negeri dan mencanangkan ekonomi yang nyata. "Sekitar 60 persen penjualan obligasi dikuasai oleh asing," kata dia.
Sementara seminar krisis keuangan ini menghadirkan pembicara, seperti Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofyan Wanandi; pengamat perbankan, Hendri Saparini; dan ekonom Fauzi Ichsan. Seminar itu turut dihadiri Ketua MPR RI Taufiq Kiemas, Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, dan sejumlah politikus PDIP di DPR RI dan DPRD Jakarta.
ABDUL RAHMAN





