Mobil Sapu Angin 4 yang dibuat oleh tim dari Institut Teknologi 10 Nopember. Janson Lee Kok Wooi/Shell via AP
Mobil Irit Semar Terancam Tak Kembali ke UGM
TEMPO.CO, Yogyakarta - Mobil juara loba super irit, Semar, terancam tak bisa kembali ke Universitas Gadjah Mada. Pasalnya Universitas kesulitan membaya bea sewa kontainer selama tertahan 2,5 bulan sebesar Rp 120 juta.
“Kami masih berkoordinasi dengan tiga universitas apakah biaya dibagi tiga atau bagaimana,” kata dosen pembimbing lomba mobil irit mahasiswa UGM Jayan Sentanuhady saat dihubungi Tempo, Kamis, 13 Oktober 2011.
Bea cukai telah mengeluarkan surat resmi untuk pengambilan mobil Semar dan mobil buatan Institut Teknologi Sepuluh November ''Sapuangin'' serta mobil Universitas Indonesia. Mobil yang diikutkan dalam lomba Shell Echo Marathon ini tertahan selama 2,5 bulan di bea cukai. Universitas kebingungan membayar bea sewa kontainer yang menelan biaya Rp 120 juta. UGM perlu mengambil hasil karya mahasiswa ini lantaran akan dijadikan bahan skripsi. Jika tidak diambil, maka tema skripsi mereka harus diubah.
Pihak UGM menyesalkan lembannya surat izin resmi itu keluar. Karena hal itu berdampak pada beban bea sewa kontainer dan gudang. “Jika proses bea cukai tidak lama, maka tentu tidak semahal itu. Ini mengecewakan,” kata Jayan dengan nada kecewa.
Yang lebih ironis, kata dia, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang hasil karya mahasiswanya belum tiba di tangan mereka. “Semua negara peserta lomba, barangnya sudah datang di pekan kedua bulan Agustus. Cuma negara kita Indonesia Raya ini saja yang belum,” kata Jayan.
Mahasiswa UGM mengirim dua jenis kendaraan super irit Semar prototipe dan Semar urban. Kedua kendaraan ini ikut dalam kejuaraan Shell Eco Marathon di Sirkuit Sepang pada 6-9 Juli. UGM menjuarai penghargaan inovasi teknik terbaik untuk Semar prototipe. Adapun semar urban memperoleh juara ke-3. Mobil semar sendiri diperoduksi dengan biaya Rp 150 juta. “Jadi ongkos produksi dengan biaya kontainernya hampir sama,” kata Jayan.
Alfian Fisa, salah satu tim Semar, menyesalkan terhambatnya proses pemulangan ini. “Semacam dilama-lamakan sehingga biayanya sangat tinggi,” kata dia.
BERNAA RURIT





