TEMPO/Dasril Roszandi
Topik
Infografis
Rupiah Terus Menguat
TEMPO.CO, Jakarta - Kondusifnya pasar finansial global mampu memicu masuknya kembali aliran dana asing ke bursa sehingga membuat rupiah kini kembali berada di level 8.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Bank Indonesia (BI) yang mampu menjaga volatilitas mata uangnya dalam beberapa pekan terakhir membuat tekanan rupiah mereda.
Diturunkannya suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,5 persen Selasa lalu lalu mampu mengembalikan kepercayaan para pelaku pasar memegang rupiah. Rupiah yang sempat melemah hingga 9.300 per dolar AS kini sudah kembali berada di level 8.800 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah di transaksi pasar uang antarbank di Jakarta hari ini, Jumat, 14 Oktober 2011, ditutup kembali menguat 24 poin (0,27 persen) ke level 8.846 per dolar AS.
Analis dari PT Pacific Duaribu Futures, Abidan Saragih, mengemukakan, terdepresiasinya dolar AS seiring menguatnya mata uang euro membuat mata uang Asia, termasuk rupiah, ikut terapresiasi. Langkah para pemimpin Uni Eropa yang lebih serius untuk menangani krisis utang kawasan direspon cukup positif oleh para pelaku pasar.
“Keberanian investor memburu aset–aset dalam mata uang yang berimbal hasil tinggi kembali mengemuka membuat rupiah dan mata regional lainnya menguat terhadap dolar AS,” paparnya.
Konsistensi BI menjaga rupiah dan diturunkannya suku bunga acuan BI Rate memberikan optimisme investor untuk kembali masuk ke bursa saham dan pasar obligasi. Sehingga harga saham di bursa minggu ini melonjak cukup tajam dan harga obligasi cenderung menguat dan menekan imbal hasilnya.
VIVA B. KUSNANDAR





