foto

Petani kentang di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah (22/9). ANTARA/Anis Efizudin

Impor Kentang, Menteri Pertanian Akui Tak Koordinasi dengan Mendag

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Suswono mengakui selama ini tidak pernah berkoordinasi dengan Menteri Perdagangan perihal masuknya produk pertanian impor ke Indonesia. Walhasil kasus kentang impor yang akhir-akhir ini menjadi perdebatan dapat menjadi sebuah pelajaran berharga untuk menjalin koordinasi lebih intens lagi.

"Untuk impor kentang memang tidak diatur melalui rekomendasi Kementerian Pertanian, yang diatur hanya impor bibit dan benih," kata Suswono pada jumpa pers di Jakarta, Jumat 14 Oktober 2011.

Dia mengakui yang melepaskan kentang asal Cina dan India tersebut ke pasar Indonesia adalah pos karantina Kementerian Pertanian. Namun menurutnya pos karantina hanya mengecek kelayakan bahan pangan yang masuk dari sisi keamanan pangan.

Dijelaskannya hasil produksi kentang dari petani Indonesia sebanyak 1 juta ton per tahun. Meski belum memiliki data konsumsi masyarakat, menurutnya impor kentang sebanyak 40 ribu ton per tahun belum memberikan pengaruh signifikan. "Artinya jumlah kentang impor yang masuk baru 5 persen, dan itu belum mengganggu," ujar dia.

Hanya, menurut Menteri Pertanian, yang menjadi persoalan tercatat hingga Juni telah masuk 50 ribu ton kentang impor asal Cina dan India yang kini beredar luas di masyarakat dengan harga di bawah Rp 3.000 per kilogram.

Padahal harga di tingkat petani lokal saat ini hanya Rp 4.000 per kilogram. Terang saja hal ini menghantam kondisi pasar kentang lokal.

Dia juga mengimbau kepada importir agar lebih peduli dengan petani dari dalam negeri. "Jangan karena kentang impor lebih murah dan untungnya lebih gede, malah petani kita yang dirugikan," ujar dia lagi.

PHESI ESTER JULIKAWATI