Pesona Metamorfosis Batik  

TEMPO.CO, Denpasar - Di atas kertas koran, Savitri Sastrawan menggoreskan cantingnya. Garis-garis dari malam (getah hitam dari pohon pinus) itu membentuk aneka bentuk figuratif. Tapi sebelumnya dia menghiasi koran dengan aneka warna untuk menangkap setiap berita yang tertulis di lembar koran itu. Hasilnya kemudian ia tempelkan di atas gabus.

Komposisi bertajuk Berita Dunia itu kini dipamerkan bersama puluhan karya lainnya di Bentara Budaya Bali hingga 14 Oktober nanti. Digelar oleh kelompok Gondorukem, pameran bertajuk “Batikmorphosis” itu berusaha mengkreasi ulang pemahaman tradisional mengenai batik dengan melebarkan batas-batas pengertian seni tradisional. Medium batik, misalnya, bukan lagi dipahami hanya di kain, tapi bisa juga di kertas, kayu, atau bahkan sebuah kaleng.

Secara tematis, batik bukan lagi digunakan untuk menyimbolkan keindahan alam sebagaimana pada batik tradisional. Batas-batas tematisnya terasa sangat luas karena bisa digunakan untuk menggambarkan kondisi sosial politik, kritik terhadap budaya korupsi, dan modus untuk menyatakan keprihatinan terhadap terancamnya budaya membatik.

Lihatlah karya I Made Arde Wiyasa yang menggambarkan seekor tikus gemuk sedang merokok dan memandang jauh ke depan, memperhatikan aneka simbolisasi kota-kota terkemuka di dunia, seperti Menara Eiffel di Paris dan Patung Liberty di New York. Karya bertajuk Liburan di Depan Mata itu seolah menggambarkan tingkah para pejabat yang berame-rame menjadi tikus bagi uang negara untuk kemudian berjalan-jalan di luar negeri.

Dalam karya Ayo Lindungi, Ketut Indrawati menggunakannya sebagai cara untuk menyampaikan pesan soal pelestarian lingkungan. Tampak di situ bola dunia yang dikelilingi aneka ras manusia. Motif yang sepintas seperti batik tradisional digunakan untuk mengajak setiap orang yang melihatnya berimajinasi mengenai luasnya lautan yang membiru.

Media yang berbeda secara ekstrem antara lain dicoba oleh Agus Miki Prasetyo, yang membatik di atas kaleng bekas, sehingga lebih mirip seni jalanan. Identifikasi terhadap batik hanya sedikit muncul dari beberapa detail dalam karya itu. Sementara itu, Anden Pundy menggoreskan batik di atas kayu dalam karya yang bertajuk Black Box. Dia ingin menyatakan, meskipun hanya sebuah kotak, instalasi berbalut batik itu mirip kotak hitam yang bisa mengungkap perjalanan sejarah sebuah bangsa.

Menurut Miki, yang menjadi pelopor kelompok Gondorukem, definisi batik harus diperluas karena tidak cukup lagi menjadi medium bagi anak-anak muda zaman sekarang. “Padahal kami mencintainya sebagai warisan masa lampau,” ujar dia. Identifikasi batik, menurut dia, cukup hanya dengan mengacu pada apakah masih menggunakan teknik canting dan malam dalam karya itu.

Dengan modus itu, batik tidak hanya diterima sebagai bentuk kerajinan tangan, tapi juga menjadi bagian dari seni rupa kontemporer. Selanjutnya, kata dia, batik akan bisa bertahan dengan sendirinya dan tidak memerlukan perlindungan khusus. “Sekarang ini saya banyak mengajar turis untuk membatik,” ujar alumnus Institut Seni Indonesia Denpasar ini.

Ide pendirian kelompok Gondorukem tujuh tahun silam, menurut dia, berawal dari keprihatinan terhadap makin jauhnya anak-anak muda dari batik. Banyak yang menjadikan batik sebagai seremonial belaka. Tapi kepedulian untuk berkarya dengan teknik batik seakan makin hilang. Teknik yang berasal dari kata “amba” (menulis) dan “tik” (titik) itu seakan telah menuju liang lahatnya.

Pengamat seni rupa Tatang Bsp. menyatakan peluang batik menjadi bagian dari seni rupa semakin terbuka dengan meluasnya paham Postmodernism. Paham ini tidak lagi mengkotakkan teknik berkesenian dalam kategori mainstream dan pinggiran. Tapi menerima kenyataan akan kemungkinan terjadinya sinergi di antara berbagai jalan. “Karena itu, sangat wajar bila batik keluar dari cangkang tradisionalisme,” ujar dia.

Meski demikian, Wayan Jengki Sunarta, yang menjadi kurator, mengingatkan bahwa pengakuan itu masih membutuhkan perjuangan yang panjang. Bisa jadi kalangan pembatik tradisional sendiri akan khawatir soal keluasan batas interpretasi. Di pihak perupa, batik bisa jadi hanya dieksploitasi menjadi ornamen karya, sehingga keberadaannya tidak terlalu diperhatikan. Dia berharap pameran itu akan mengundang perhatian kedua belah pihak untuk mencari pemahaman yang seimbang tentang makna batik.

ROFIQI HASAN