indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Sering Retak, Rute Tol Semarang-Ungaran Diusulkan Pindah

Sering Retak, Rute Tol Semarang-Ungaran Diusulkan Pindah

Pembangunan jalan tol Semarang-Solo seksi I Semarang–Ungaran. ANTARA/R. Rekotomo

TEMPO.CO, Semarang - Pakar hidrologi Universitas Diponegoro Semarang, Robert J. Kodoatie, mengusulkan agar tol Semarang-Ungaran, tepatnya di sekitar di STA 5+500 - 5+700, Gedangan, Banyumanik, yang hingga kini masih terus retak agar dipindah saja rutenya. Padahal, jalan tol ini akan dioperasikan secara penuh pada November mendatang.

“Saya pesimis keretakan ini akan berhenti sebab di bawah tanah kawasan itu ada tanah kerek (lempung) yang tak bisa menyerap air,” kata Robert dalam rapat koordinasi dengan Komisi D DPRD Jawa Tengah, Jumat, 14 Oktober 2011.

Robert menilai apa yang terjadi di tol Semarang-Ungaran dengan yang terjadi di tol Cipularang masih parah di tol Semarang. “Tak ada musim hujan saja terjadi longsor, apalagi jika nanti sudah datang musim hujan,” kata Robert. Tanah kerek, kata dia, tak bisa menyerap air, maka air itu akan menggelembung di tanah-tanah urukan saja sehingga tanah urukan itu akan rawan retak atau bahkan longsor.

"Jika memang tol di titik itu bermasalah dan tidak bisa diselesaikan, rute tol dialihkan saja!" kata Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah Rukma Setyabudi dalam kesempatan yang sama.

Menurut Rukma, soal keretakan tanah itu sempat mengemuka sebelum pembangunan tol dimulai. Namun, usulan pihaknya untuk mengkaji ulang pembangunan tol di rute tersebut tak pernah digubris oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU). "Lha, ini sampai sekarang, kami juga tak bisa peroleh Amdal yang tak lazim itu," ujarnya.

Menurut Robert, daerah Susukan dan Gedawang merupakan formasi kerek dengan struktur tanah lempung sehingga mudah bergerak. Struktur tanah formasi kerek bila kena air hujan mudah meleleh dan jika musim kemarau retak. "Apakah kita yakin aman di situ nanti. Siapa yang menjamin. Ini belum hujan saja sudah retak, apalagi nanti kalo sudah hujan. Selain longsor, itu juga berpotensi banjir bandang," tutur dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik Undip ini.

Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Teguh Dwi Paryono menambahkan, tidak semua formasi kerek menggelincirkan. Menurutnya, gerakan tanah di formasi kerek itu dipicu oleh aliran air. "Untuk itu, hal itu bisa diakali dengan mengendalikan aliran dan larutan air di kawasan formasi kerek itu. Selain itu, juga menstabilkan lereng di kawasan itu," terangnya.

Seperti diketahui, tol di STA 5+500 - 5+700 Gedangan, Banyumanik, terjadi keretakan kawasan Gedangan karena kontur tanahnya memang rawan longsor. Bahkan, pada belasan tahun lalu kawasan tersebut pernah terjadi longsor. Kontraktor memang sudah merekayasa dengan memasang boor pile. Namun, upaya itu tampaknya tak berhasil karena meski sudah dipasang puluhan boor pile, tapi tol tetap retak.

Penggarap proyek memasang alat pengukur gerakan tanah atau incrinometer di sekitar di STA 5+500 - 5+700 Gedangan Banyumanik Semarang. Alat yang dipasang ditanam didalam tanah itu sangat penting karena sebelumnya di dekat lokasi tersebut pernah terjadi longsor. Setidaknya terdapat 16 alat deteksi gerakan yang ditanam di lokasi tersebut dengan kedalaman mencapai 40 meter,

Tol Semarang-Ungaran sepanjang 11 kilometer sebenarnya sudah selesai digarap. Tol ini sempat diuji coba pada arus mudik Lebaran lalu. Namun, kini tol belum juga dioperasikan karena masih ada masalah keretakan.

ROFIUDDIN

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X